BITUNG — Kebakaran yang melanda kawasan wisata alam Batuputih dan kawasan konservasi Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, turut menggerakkan kepedulian sejumlah stakeholder hingga wisatawan mancanegara.
Sekitar 80 personel terlibat dalam upaya pemadaman api, Sabtu (29/8/2026). Mereka terdiri dari personel BKSDA Sulut, pemandu wisata alam Tangkoko, Manggala Agni, Tim Persemaian Modern Likupang, Pemerintah Kelurahan Batuputih Atas dan Batuputih Bawah, serta masyarakat.
Menariknya, sejumlah wisatawan mancanegara yang berada di kawasan tersebut juga ikut membantu tim dalam upaya memadamkan api.
Proses pemadaman tidak mudah. Kontur kawasan yang curam, ditambah hembusan angin kencang, membuat personel di lapangan harus bekerja ekstra keras untuk menjangkau titik-titik api.
Meski menghadapi medan ekstrem, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat tim gabungan. Pemadaman dilakukan dengan membagi personel ke dalam dua tim lapangan, yang diperkuat tim pengawal atau eskort serta tim logistik untuk memastikan kebutuhan personel di lapangan tetap terpenuhi.
Salah satu wisatawan asal Prancis, Sara Saci, mengaku antusias bisa terlibat langsung dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Tangkoko.
Bagi Sara, pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
“Ini adalah pengalaman pertama saya seumur hidup. Sebelumnya saya hanya melihat kebakaran seperti ini di televisi atau media sosial. Namun sekarang saya bisa merasakan langsung suasana kebakaran dan bagaimana cara melakukan pemadaman,” ujar Sara dalam bahasa Inggris.
Ia juga mengaku terkejut dengan kondisi medan yang harus dihadapi para personel pemadam.
“Wow… medannya sangat ekstrem. Ini benar-benar pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Pemadaman membutuhkan tenaga besar dan juga teknik,” katanya.
Keterlibatan wisatawan asing tersebut menjadi gambaran bahwa kebakaran di kawasan Tangkoko bukan hanya menjadi persoalan pemerintah dan petugas pemadam, tetapi juga menggugah kepedulian orang-orang yang datang untuk menikmati kekayaan alam kawasan konservasi tersebut.
Upaya pemadaman pun terus dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah api meluas dan melindungi kawasan hutan serta habitat satwa endemik Tangkoko. (*)

