MITRA – Ribuan penambang rakyat di Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara, menggelar aksi besar-besaran menolak rencana penutupan tambang emas yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Gelombang massa yang turun ke jalan pada Senin (15/9/2025) itu menyerukan agar pemerintah tidak gegabah mengambil keputusan yang mengancam keberlangsungan hidup ribuan keluarga.
Dalam orasi penuh emosi, perwakilan penambang Hence Ratung dan Iko Mantiri menegaskan, tambang Ratatotok bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat setempat.
“Hidup dan mati kami bergantung pada tambang ini. Dari hasil keringat di Ratatotok, kami bisa menyekolahkan anak dan menghidupi keluarga. Kalau tambang ditutup, kami akan lawan, bahkan nyawa jadi taruhan,” tegas mereka disambut sorak dukungan para penambang.
Aksi tersebut berlangsung spontan, namun memperlihatkan kekompakan masyarakat yang selama puluhan tahun menggantungkan harapan pada aktivitas pertambangan rakyat. Mereka menilai penutupan tambang sama saja dengan memutus napas ekonomi ribuan keluarga yang hidup di sekitar Ratatotok.
Menanggapi situasi tersebut, Majelis Penambang Rakyat Indonesia (MPRI) turut angkat suara. Presidium MPRI, Irawan Damopolii, SH, menilai pemerintah pusat harus mendengar jeritan rakyat sebelum mengambil kebijakan sepihak.
“Pemerintah ingin menertibkan, tapi harus lihat dampak sosialnya. Negara justru bisa rugi besar kalau rakyat dipaksa kehilangan mata pencaharian. Solusinya bukan penutupan, melainkan tata kelola tambang yang benar demi masyarakat,” ujarnya.
MPRI menegaskan bahwa tambang rakyat di Ratatotok bisa menjadi proyek percontohan nasional bila dikelola dengan regulasi yang tepat. Selain menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat, langkah itu dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan bagi negara.
Aksi penolakan penutupan tambang ini menjadi sinyal keras bagi pemerintah bahwa persoalan tambang rakyat tidak bisa dipandang hanya dari sisi legalitas semata, melainkan harus mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan keberlangsungan hidup masyarakat yang telah bergenerasi bergantung pada emas Ratatotok. (**)





