Fenomena Ekshibisionisme Dan Breast Grabber, Kemungkinan Gangguan Jiwa Atau Memiliki Kelainan Sex ?

oleh -3930 Dilihat
ilustrasi gambar
ilustrasi gambar

PALU-Mengenal fenomena Ekshibisionisme, dan Breast Grabber yang saat ini lagi rame diperbincangkan, bukan hal biasa tapi sangat luar biasa. Sebab, keduanya merupakan bentuk penyimpangan yang kemungkinan pelakunya memiliki kelainan sex atau gangguan jiwa.

Dikutip dari Halodoc.com gangguan eksibisionis adalah suatu kondisi yang ditandai oleh dorongan, fantasi, atau tindakan mengekspos alat kelamin seseorang, kepada orang yang tidak menginginkannya, terutama orang asing.

Kondisi ini dianggap sebagai parafilia, yang mengacu pada pola gairah seksual atipikal yang persisten dan intens, yang disertai gangguan secara klinis.

Orang dengan gangguan eksibisionis mungkin memiliki preferensi untuk menunjukkan alat kelamin kepada korban, yaitu anak-anak, remaja, orang dewasa, atau keduanya. Bisa dibilang kondisi ini merupakan gangguan kepribadian, karena pelaku tidak merasa malu menunjukkan alat kelaminnya. Sebaliknya, justru muncul perasaan semangat saat orang lain melihatnya.

Penyebab Munculnya Gangguan Eksibisionis

Gangguan eksibisionisme biasanya berkembang selama masa dewasa muda. Penyebab pasti gangguan kepribadian ini belum diketahui secara pasti. Namun, diperkirakan ada beberapa faktor yang memicunya, seperti: Gangguan kepribadian antisosial, Penyalahgunaan zat, Gangguan parafilia.

Sementara itu, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa ada hubungan antara gangguan eksibisionis dan pelecehan seksual masa kanak-kanak, atau hiper seksualitas, sebagai faktor risiko potensial berkembangnya gangguan. Hanya saja tidak ada data yang dapat membuktikannya.

Untuk saat ini penyebab eksibisionis dibedakan dalam dua jenis, yaitu:

  1. Eksibisionis murni

Jenis eksibisionis ini adalah orang-orang yang menunjukkan organ seksual mereka kepada orang lain dari kejauhan. Pelaku menganggap bahwa respon terkejut korban sebagai minat seksual. Dalam pikiran pelaku, dia sedang melakukan bentuk flirting (menggoda).

Munculnya gangguan eksibisionis ini biasanya terjadi pada masa remaja akhir atau awal masa dewasa. Kondisi ini mirip dengan preferensi seksual lainnya. Bisa disebabkan oleh minat seks yang tidak tersalurkan. Namun, umumnya perilaku tersebut dapat berkurang seiring bertambahnya usia.

Meskipun perilaku tersebut tidak membahayakan fisik korban, tapi beberapa eksibisionis terus melakukan kejahatan seksual, seperti pemerkosaan.

  1. Eksibisionis eksklusif

Jenis eksibisionis ini adalah yang muncul karena keinginan seseorang yang berusaha untuk memiliki hubungan romantis, dan mereka yang tidak dapat melakukan hubungan seksual secara normal. Memamerkan alat kelamin adalah cara mereka untuk mendapatkan kepuasan seksual. Namun, jenis gangguan eksibisionis ini kurang umum.

Bisakah Gangguan Eksibisionis Disembuhkan?

Kebanyakan orang dengan gangguan eksibisionis tidak mencari pengobatan sendiri. Tidak pula menerima pengobatan sampai mereka tertangkap dan diwajibkan untuk melakukan pengobatan oleh pihak berwenang. Pengidap eksibisionis amat disarankan untuk melakukan pengobatan dini agar gangguan tersebut dapat diatasi.

Pengobatan eksibisionis biasanya mencakup psikoterapi dan pengobatan medis. Penelitian menunjukan bahwa perawatan terapeutik efektif dalam mengobati gangguan tersebut. Perawatan tersebut dilakukan dengan alat untuk mengontrol impuls pengidap, dan menemukan cara yang lebih dapat diterima untuk mengatasi dorongan untuk menunjukkan alat kelamin pada orang lain.

Selain itu,  terapi perilaku kognitif juga dapat mengidentifikasi pemicu yang menyebabkan dorongan pengidap, dan kemudian mengelola dorongan tersebut dengan cara yang lebih sehat.

Sementara itu pendekatan psikoterapi lainnya dapat dilakukan. Seperti pelatihan relaksasi, pelatihan empati, pelatihan keterampilan untuk mengatasi ketika munculnya hasrat seksual, serta restrukturisasi kognitif (mengidentifikasi dan mengubah pikiran yang mengarah pada eksibisionisme).

Beberapa obat-obatan juga dapat membantu mengobati gangguan eksibisionis. Contohnya obat-obatan yang menghambat hormon seksual, yang mengakibatkan penurunan hasrat seksual. Beberapa obat yang umum digunakan untuk mengobati depresi dan gangguan suasana juga dapat diberikan untuk mengurangi hasrat seksual.

Itulah yang perlu diketahui tentang penyebab eksibisionis pada pengidapnya.

Terus bagaimana dengan Breast Grabber atau Begal Payudara, begini penjelasannya, dikutip dari m.brilio.net,

3 Alasan yang melatarbelakangi pelaku begal payudara lancarkan aksinya

Maraknya begal payudara sangat meresahkan bagi masyarakat, khususnya bagi kaum hawa. Lantas, bagaimana hal tersebut sebetulnya dapat terjadi?.

Beberapa waktu yang lalu, warganet dihebohkan dengan sebuah video yang viral di media sosial mengenai aksi pengejaran pengemudi mobil terhadap pelaku begal payudara yang hendak melarikan diri.

Diketahui bahwa video yang diunggah oleh akun Instagram @jannah_ey tersebut terjadi di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat (23/5/2021). Pelaku kasus begal payudara yang belum lama terjadi di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan inisial HP (31) tersebut, kini telah ditangkap dan diamankan oleh pihak Polres Metro Jakarta Pusat.

Menurut penuturannya, pelaku mengaku telah melakukan hal tersebut kepada setidaknya tiga korban dengan alasan untuk memuaskan hasratnya.

Sebagaimana yang telah diketahui, begal payudara merupakan merupakan suatu perilaku yang merujuk pada pelecehan seksual yang terjadi di ruang publik di mana pelaku dengan menggunakan motor, menyerang korban dengan cara memegang atau memeras payudara secara cepat.

Setelah melakukan tindakan tersebut, pelaku langsung kabur layaknya pelaku kasus kriminal lain.

Kejahatan semacam ini telah banyak terjadi beberapa tahun terakhir. Selain di Jakarta, fenomena begal payudara dilaporkan juga banyak terjadi di daerah lain, seperti di Bekasi, Yogyakarta, Banten, Sumatra Barat, Kota Palu dan sebagainya. Hal ini menujukkan bahwa pelecehan seksual, khususnya begal payudara masih marak terjadi pada masyarakat.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Hollaback! Jakarta bersama dengan sejumlah lembaga lainnya terhadap 62 ribu orang mendapati bahwa aksi penjahat seksual begal payudara ini tak hanya dilakukan saat malam hari dan di ruang tertutup dengan alasan agar tidak dikenali saja, bahkan juga dilakukan saat siang hari dan di tempat umum serta dengan memperhitungkan untuk mengincar korban yang sedang berjalan sendiri.

Hasil studi juga menyebutkan bahwa pelecehan ini tak hanya dialami oleh perempuan, tetapi terjadi juga pada laki-laki, namun perempuan jelas yang paling rentan.

Lantas, mengapa pelaku melakukan hal tersebut? Setidaknya, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi pelaku melakukan hal tersebut, di antaranya sebagai berikut.

  1. Penyalahgunaan kekuasaan atau otoritas.

Pelaku akan merasa puas atau mendapatkan semacam kenikmatan ketika ia telah berhasil merendahkan orang lain secara seksual. Rasa puas atau semacam kenikmatan setelah melakukan pelecehan seksual adalah ekspresi setelah melakukan hal tersebut, terlebih jika hal ini dilakukannya secara berulang-ulang.

  1. Memiliki penyimpangan atau kelainan.

Menurut Psikolog Forensik UGM, Prof Koentjoro, pelaku begal payudara bisa saja memiliki penyimpangan atau kelainan. Namun, jika dikategorikan, penyimpangan yang dimiliki masih dalam tahap yang kecil. Itu pula yang menyebabkan penyimpangan tersebut tidak diketahui banyak orang. Sehingga, mengenai hal ini tetap perlu diperiksa lebih lanjut.

  1. Adanya wewenang maskulin (masculine entitlement).

Beberapa penelitian menjelaskan bahwa mengapa para pelaku pelecehan melakukan hal tersebut adalah karena mereka merasa memiliki “wewenang maskulin” (masculine entitlement). Menurut Logan (2013), dengan merasa memiliki wewenang maskulin, para peleceh menganggap pelecehan itu merupakan sifat alamiah manusia dan sebagai wujud ketertarikan seksual yang tak berbahaya. Rasa wewenang maskulin juga membentuk sikap peleceh yang ingin mempermalukan, mengontrol, meneror, atau menyerang targetnya.

Adanya perlakuan yang tidak menyenangkan dari pelaku pelecehan ini tentunya akan berdampak pada korban. Tak main-main, dampak ini dapat berpengaruh pada psikologis, sosial, serta fisiologis korban.

Selain itu, walaupun korban pelecehan seksual khususnya begal payudara jarang ada korban secara fisik (luka), namun tindakan ini tidak dimungkiri bisa mengganggu mental korban. Untuk itu, korban disarankan dapat melakukan konsultasi kepada pihak yang kompeten, seperti ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan layanan.

Korban juga diharapkan untuk melapor kepada pihak kepolisian pada unit PPPA yang akan dilayani oleh petugas polisi perempuan. Adanya laporan ini agar petugas kepolisian bisa lebih mudah untuk melacak dan mengidentifikasi pelaku. Sehingga, diharapkan akan ada tindakan tegas pada pelaku dan selanjutnya pelaku bisa mendapat sanksi atau penanganan lain sesuai perbuatan yang telah dilakukan.

Untuk itu perlunya kewaspadaan diri dalam setiap aktifitas. Mengutip kata Bang Napi,  ‘Ingat! Kejahatan bukan semata-mata karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah! Waspadalah! (**Tim Kamu Nanya**)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.