Sangihe, SuaraSulut.com — Audit Kasus Stunting Kabupten Kepulauan Sangihe digelar di Ruang Serbaguna Rumah Jabatan (Rumjab) pada Senin, (10/10/2022) kemarin.
Pada kesempatan tersebut, Penjabat (Pj) Bupati Kepulauan Sangihe dr. Rinny Tamuntuan mengungkapkan, penanganan kasus stunting diperlukan perhatian bersama semua pihak, mengingat anak-anak ini merupakan masa depan bangsa dan negara khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe.
“Karena kasus stunting ini menjadi perhatian dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan juga Kabupaten Kota. Untuk itu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, kami akan mempersiapkan dan mengangkat Bapak Asuh untuk tingkat Kabupaten yakni pak Dandim 1301/Sangihe yakni Letnan Kolonel (Letkol) Arm Lukas Meinardo Sormin, S.I.P,. M.I.Pol,” ungkap Bupati wanita pertama di Sangihe ini
Lebih lanjut Tamuntuan menuturkan untuk masing-masing perangkat daerah juga, akan mendapatkan hak asuh anak.
“Jadi memang harus ada penanganan yang serius terkait kasus stunting ini,” tuturnya
Tamuntuan mengatakan di Sangihe 302 kasus yang tercatat saat ini akan menjadi perhatian semua pihak. karena dimana ada kasus stunting, berarti disitu ada yang harus diperhatikan mulai dari perencanaan kehamilan yang harus memperhatikan pola asuh, asupan gizi dari ibu hamil serta juga menjadi perhatian sampai pada 1000 hari kelahiran pertama anak.
“Jadi tentunya keterlibatan kita semua menjadi sangat penting, baik dari penanganan tenaga dokter spesialis mulai dari kehamilan sampai pada kelahiran anak serta tentunya asupan gizi dari tenaga gizi dan juga psikologi itu sangat penting perannya. Ini harus menjadi perhatian kita semua karena kerjasama Pemerintah Kabupaten, kecamatan sampai di tingkat kampung, kelurahan serta Puskesmas sangat dibutuhkan,” ujar Penjabat Bupati.
Bupati Tamuntuan juga menegaskan agar petugas Puskesmas harus sering mendatangi anak-anak stunting. Setiap minggu harus dilakukan pengukuran tinggi badan.
“Jadi kita harus melihat apakah penyebab stunting ini. Mungkinkah karena ibu-ibu terlalu sibuk kerja sehingga lupa mengurus anaknya atau ibu-ibu yang hamil muda hasil dari pernikahan dini. Kita juga harus bekerjasama dengan lembaga keagamaan agar dapat membantu memberikan nasehat kepada masyarakat,” tandasnya
(Erick Sahabat)





