Rakor TP3S: Angka Stunting Sangihe ‘Fluktuatif’, Bantuan Makanan Tambahan Ikut Disorot Tajam

IMG_20251106_133706

Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S), Rabu (5/11/2025

Sangihe, SuaraSulut.com Penanganan stunting di Kabupaten Kepulauan Sangihe mendapat sorotan tajam menyusul data kasus yang masih fluktuatif dan belum menunjukkan penurunan signifikan.

Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S), Rabu (5/11/2025), terungkap kekhawatiran serius mengenai validitas data penurunan dan efektivitas penyaluran bantuan di lapangan.

​Rapat yang dihelat di Rumah Jabatan (Rumjab) Bupati Sangihe itu dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Melanchton Harry Wolff. Ia secara terbuka mengakui kelemahan dalam penanganan stunting di wilayah Sangihe

​“Yang lemah di kita untuk angka kasus stunting selalu loncat-loncat atau naik turun,” ungkap Melanchton.

Ia mendesak seluruh jajaran, mulai dari camat, puskesmas, hingga kepala kampung, untuk meningkatkan sinergitas agar penanganan di lapangan lebih efektif.
​Namun, kritik paling tajam justru datang dari internal tim inti.

Kepala Dinas Kesehatan Sangihe, Handry Pasandaran, mengangkat dua isu krusial yang mencederai upaya penurunan stunting di Tanah Tampungang Lawo

​Pertama, ia mempertanyakan validitas data penurunan. Handry menyentil bahwa penurunan angka stunting harus murni hasil dari intervensi tim, bukan sekadar faktor teknis.

​”Angka penurunan bayi stunting harus benar-benar hasil dari intervensi tim, bukan berkurang karena bayi sudah lewat umur,” tegas Handry.

Pernyataan ini mengindikasikan adanya potensi kasus stunting yang “hilang” dari data bukan karena sembuh, melainkan karena anak tersebut telah melewati usia sasaran pendataan (misalnya, di atas dua tahun).

​Kedua, dan yang paling mengkhawatirkan, Handry menyoroti potensi salah sasaran dalam distribusi makanan tambahan (PMT). Ia khawatir bantuan krusial tersebut tidak dinikmati oleh bayi yang menjadi target.

​“Harus dikawal jangan sampai mubazir penanganannya,” katanya. “Karena jangan-jangan yang nikmati makanan tambahan itu bukan bayi stunting, tapi orang tua bayi atau anak lainnya yang bukan stunting.” tandasnya lagi.

​Kekhawatiran ini sejalan dengan arahan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Sangihe, dr.Jopy Thungari, yang juga menjadi narasumber.

Jopy mengingatkan tim untuk tidak hanya fokus pada penanganan kasus yang sudah ada, tetapi juga harus gencar melakukan pencegahan agar tidak muncul kasus baru.

​“Kita jangan hanya fokus pada penanganan di lapangan, tapi harus mampu mencegah jangan sampai muncul kasus baru,” kata Jopy.

​Rakor yang digagas Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana (DPPKB) ini turut dihadiri oleh Kepala Bapelitbang Ronald Izaak, Kadis Dukcapil Davidson Henry Djarang, serta Kepala BPJS Sangihe. Para camat dan beberapa kepala puskesmas juga memberikan paparan serta testimoni mengenai kendala yang dihadapi di lapangan.

(Erick Sahabat)