MINUT – Potensi pertanian di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, mulai mendapat perhatian serius dari pegiat pemberdayaan masyarakat nasional. Agung Widhianto, S.I.P., Fil.Mag., M.Sc., M.P.P., pimpinan Yayasan Pusat Pembelajaran Kepemimpinan dan Kebijakan Pandjer (Pandjer School) yang berpusat di Kebumen, Jawa Tengah, ia menyatakan ketertarikannya untuk mengembangkan kawasan agrowisata berbasis masyarakat di Kema sebagai wilayah yang memiliki potensi pertanian dan perikanan yang tinggi.
Agung yang telah mendampingi masyarakat Kema sejak April 2025 ini secara khusus menyoroti sosok Liong Rompis, seorang petani cabai merah asal Desa Waleo yang dinilainya luar biasa.
“Saya berkeliling ke banyak daerah di Indonesia, tapi Pak Liong ini punya keunikan. Di tengah lahan perbukitan yang menurut banyak orang sulit, beliau berhasil mengelola sekitar 1 hektar lahan menjadi ladang cabai merah yang super produktif. Ini adalah teladan nyata bahwa petani lokal bisa sukses tanpa teknologi mahal,” ujar Agung saat ditemui di sela-sela kunjungan ke ladang Pak Liong di Desa Waleo, belum lama ini.
Cabai Panen Setiap Minggu
Menurut penuturan Pak Liong, pembibitan cabai merah dilakukan langsung di ladang. Dalam waktu sekitar 4 bulan, bibit sudah bisa dipanen pertama kali. Yang lebih mengesankan, setelah masa panen perdana, tanaman cabai tersebut tetap produktif dengan siklus panen setiap minggu hingga 2 tahun lamanya.
“Dalam satu minggu, bisa dapat 200 kilogram cabai merah segar. Harganya sekarang berkisar Rp60.000 sampai Rp100.000 per kilogram, tergantung pasaran. Biasanya saya jual ke pasar di Kema, atau kadang pembeli langsung datang ke rumah,”jelas Pak Liong.
Dengan produktivitas sebesar itu, pendapatan kotor Pak Liong dalam sepekan cukup menggiurkan, tetapi belum termasuk biaya tenaga kerja karena ia dibantu beberapa orang untuk mengelola ladang.
Komoditas Lain Juga Potensial, Generasi Muda Perlu Tergerak
Agung Widhianto tidak hanya ingin mengagumi keberhasilan Pak Liong. Ia punya misi besar: mendorong petani lain, khususnya generasi muda, agar mau berkecimpung di sektor pertanian yang menjanjikan.
“Sayang sekali jika hanya Pak Liong yang sukses. Ilmu dan pengalamannya harus menular. Saya ingin ladang Pak Liong menjadi sekolah lapang dan destinasi agrowisata edukasi. Pelajar, petani dari desa lain, bahkan wisatawan dari luar Manado bisa datang ke sini untuk belajar, bertukar wawasan, dan membangun jaringan pertanian berbasis masyarakat yang kuat,” tegas Agung.
Ia juga mengingatkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Minahasa Utara, wilayah Kema dan sekitarnya sebenarnya pernah sangat produktif dengan berbagai komoditas sayuran. Selain cabai merah, komoditas seperti cabai keriting, cabai rawit, cabai besar, kacang panjang, ketimun, terong, tomat, bawang merah, bayam, buncis, dan kangkung juga pernah melimpah.
“Kita tidak perlu semuanya sekaligus. Mulailah dari cabai merah dulu. Jika pola Pak Liong bisa direplikasi, bukan tidak mungkin Kema menjadi lumbung cabai sekaligus kawasan agrowisata unggulan di Sulawesi Utara,” tambahnya.
Tindak Lanjut: Pendampingan dan Jaringan Pasar
Yayasan Pandjer School bersama para pemangku kepentingan di Kema berencana menyusun program pendampingan bagi petani muda, termasuk pelatihan teknis, manajemen lahan perbukitan, serta akses pasar yang lebih luas.
Agung juga membuka peluang kerja sama dengan Dinas Pertanian, Kelompok Tani, dan sektor swasta yang peduli pada pengembangan agrowisata berkelanjutan.
“Kami tidak datang untuk menggurui. Kami datang untuk belajar dari Pak Liong, lalu membantu menyebarkan ilmunya. Agrowisata bukan sekadar jual hasil tani, tapi juga jual pengalaman, edukasi, dan kebanggaan menjadi petani,”pungkas Agung.
(FP)
