Drama Satu Suara di Bengketang: Dari Seragam Cokelat ke Kursi Kapitalaung

Sangihe, SuaraSulut.com – Dalam sejarah demokrasi tingkat kampung di Kabupaten Kepulauan Sangihe, jarang ada pemilihan yang menyuguhkan ketegangan hingga hitungan terakhir. Namun, Rabu (21/10/2026), Kampung Bengketang, di Kecamatan Tabukan Utara mencatatkan kisahnya sendiri. Dari lima calon yang bertarung, hanya satu suara yang menjadi jurang pemisah antara kemenangan dan kekalahan. Dan satu suara itu berpihak pada Imer Toppol.

Di Balai Pertemuan Kampung Bengketang, suasana penghitungan suara berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Setiap lembar surat suara yang dibuka, setiap angka yang dicatat di papan rekapitulasi, seolah mengunci napas seluruh saksi dan warga yang hadir.
Hingga surat suara terakhir dihitung, hasilnya nyaris tak dipercaya:

Imer Toppol (No. Urut 4): 163 suara
Ernisye Londo (No. Urut 1): 162 suara

Hanya satu suara yang menentukan siapa yang akan memimpin Kampung Bengketang untuk enam tahun ke depan. Ernisye Londo, yang sejak awal menjadi pesaing terkuat, harus menerima kenyataan pahit kalah dengan margin paling tipis dalam kontestasi demokrasi. Sementara tiga calon lainnya — Dince Gurinda (No. Urut 2, 20 suara), Darman Makaminan (No. Urut 3, 15 suara), dan Julius Darea (No. Urut 5, 10 suara) harus mengakui dominasi dua kandidat teratas. Empat lembar surat suara tercatat rusak.

Bagi masyarakat Tabukan Utara, nama Imer Toppol bukanlah nama asing. Sebelum memutuskan melepas seragam cokelat dan terjun ke arena demokrasi kampung, pria berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) ini telah malang melintang di jajaran Kepolisian Resor Kepulauan Sangihe.
Tiga kali ia dipercaya memimpin komando tingkat sektor: Kapolsek Kendahe, Kapolsek Tahuna, dan terakhir Kapolsek Tabukan Utara wilayah yang kini akan ia pimpin sebagai Kapitalaung.

Pengalaman panjang di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat inilah yang menjadi modal utamanya. Bagi warga Bengketang, memilih Imer Toppol bukan sekadar memilih seorang pemimpin kampung, melainkan mempercayakan tongkat estafet pembangunan kepada sosok yang telah terbukti mengabdi untuk negeri.

Namun, kemenangan satu suara bukanlah kemenangan yang bisa dirayakan dengan jumawa. Ia adalah amanah yang datang dengan tanggung jawab ganda.
Di satu sisi, 163 warga telah menaruh kepercayaan penuh di pundaknya. Di sisi lain, 162 warga lainnya nyaris separuh dari total pemilih yang menggunakan hak suara memilih jalan berbeda. Belum lagi 45 suara yang tersebar pada tiga calon lainnya.

Kini, tugas pertama Imer Toppol bukan sekadar merealisasikan janji kampanye. Ia harus merangkul, menyatukan kembali warga yang terbelah oleh pilihan politik, dan membuktikan bahwa kepemimpinannya adalah untuk seluruh masyarakat Bengketang bukan hanya untuk mereka yang mencoblos nomor empat.

Pemilihan Kapitalaung serentak di Kabupaten Kepulauan Sangihe tahun 2026 ini menjadi bukti bahwa demokrasi di tingkat akar rumput masih hidup, bernapas, dan bergelora. Di Bengketang, demokrasi itu bahkan berdenyut hingga hitungan paling akhir.

Kini, harapan masyarakat tertuju pada satu nama. Pelayanan pemerintahan yang lebih dekat, pembangunan infrastruktur yang lebih merata, serta pemberdayaan masyarakat yang lebih nyata semua itu kini menanti di meja kerja seorang mantan Kapolsek yang kini resmi menjadi Kapitalaung.
Satu suara telah menentukan sejarah. Kini, sejarah menanti untuk ditulis.

(Erick Sahabat)