BOLTARA— Kondisi Bendung Pontak yang menjadi salah satu sumber pengairan bagi lahan persawahan di wilayah Pontak dan Bigo mendapat perhatian serius.
Menanggapi sorotan terkait minimnya debit air, tumpukan kayu dan ranting yang mengganggu aliran, hingga kondisi pintu bendung, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) , Abdul Jalil Pandialang, S.T., memberikan penjelasan.
Menurut Abdul Jalil, Dinas PUTR tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi Bendung Pontak dan jaringan irigasi melalui petugas kebersihan maupun penjaga pintu air yang berada di lapangan.
Namun, terkait minimnya debit air, pihaknya menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari musim kemarau yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air yang masuk ke jaringan irigasi.
Yang menjadi sorotan, pada Tahun Anggaran 2026 ternyata belum tersedia alokasi anggaran khusus untuk pemeliharaan Bendung Pontak dan jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Pontak.
“Terakhir kegiatan pengerukan sedimen dan perbaikan pintu-pintu bendung dilaksanakan pada 2024. Sementara kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dilaksanakan pada 2025,” ungkap Abdul Jalil.
Terkait keberadaan ranting, kayu maupun material lain yang berpotensi menghambat aliran air, Dinas PUTR menyatakan akan melakukan pembersihan, khususnya pada bagian pintu bendung dan titik-titik yang dianggap mengganggu kelancaran aliran.
“Namun, pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kondisi lapangan, ketersediaan peralatan, kebutuhan biaya, serta faktor keselamatan petugas,” ucap Jalil.
Di tengah kondisi musim kemarau, Dinas PUTR juga menyatakan akan mengoptimalkan pengaturan distribusi air dengan melakukan pemantauan berkala terhadap jaringan dan pintu-pintu air.
“Pengaturan tersebut akan dikoordinasikan dengan Dinas Pertanian agar debit air yang terbatas dapat dimanfaatkan dan didistribusikan seoptimal mungkin sesuai kebutuhan petani,” kata Kadis PUTR.
Dinas PUTR menegaskan, pembersihan ringan seperti ranting dan sampah yang masih dapat dilakukan secara manual akan ditangani petugas lapangan sesuai tingkat kebutuhan.
Namun demikian, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam pemeliharaan infrastruktur irigasi.
“Jika anggaran tersedia, pemeliharaan tidak selalu dapat dilakukan sekaligus pada seluruh bagian bendung dan jaringan, melainkan berdasarkan tingkat urgensi dan prioritas,” pungkas Abdul Jalil.(***)
