Tambang Rakyat Panang-Benteng Kotabunan: Warisan Sejarah yang Jadi Nadi Ekonomi Warga Tanpa Alat Berat

BOLTIM – Jauh sebelum istilah pertambangan rakyat dikenal seperti sekarang, aktivitas pencarian emas di wilayah Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat setempat.

Jejak aktivitas pertambangan bahkan disebut telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda. Sejumlah maskapai asing, termasuk NV Bolaang Mongondow atau Maskapai Tapa Ibeken, pernah melakukan eksplorasi emas di wilayah Bolaang Mongondow dengan memperkenalkan teknik penambangan yang lebih terstruktur melalui pembuatan lubang galian dan terowongan bawah tanah.

Namun, jauh sebelum eksploitasi oleh perusahaan kolonial, masyarakat lokal disebut telah lebih dahulu mengenal aktivitas mendulang emas secara tradisional.

Di kawasan Panang dan Benteng, Desa Kotabunan, jejak sejarah tersebut hingga kini masih dapat ditemukan. Terowongan-terowongan lama yang diyakini merupakan peninggalan aktivitas pertambangan masa kolonial menjadi bagian dari cerita yang terus hidup di tengah masyarakat penambang.

Pada awal 1900-an, sejumlah ahli geologi dan insinyur Belanda, termasuk I.J. Koperberg, diketahui melakukan pemetaan terhadap potensi mineral di kawasan Bolaang Mongondow. Wilayah yang kini dikenal sebagai Doup-Panang, Kotabunan, menjadi salah satu kawasan yang memiliki sejarah panjang eksplorasi emas.

Aktivitas pertambangan kolonial kemudian terhenti seiring pecahnya Perang Dunia II dan masuknya pendudukan Jepang.

Pasca-kemerdekaan, khususnya sejak sekitar dekade 1960-an hingga sekarang, sebagian lubang lama tersebut kembali dimanfaatkan masyarakat secara tradisional. Menariknya, menurut masyarakat setempat, aktivitas penambangan di Panang dan Benteng tetap dilakukan secara manual tanpa menggunakan alat berat.

Ketua Lembaga Adat Kotabunan, Arsad Mokoagow, mengatakan keberadaan terowongan peninggalan masa lalu masih kerap ditemukan oleh para penambang ketika melakukan penggalian.

“Masyarakat penambang tradisional Kotabunan sampai saat ini ketika menggali lubang secara tradisional banyak menemukan adanya bukti terowongan peninggalan kolonial Belanda yang berada di lokasi tambang Panang, Benteng,” jelas Arsad.

 

Mengandalkan Tenaga Manusia, Bukan Alat Berat

 

Menurut Arsad, karakter utama aktivitas pertambangan masyarakat di Panang dan Benteng adalah penggunaan metode sederhana. Para penambang mengandalkan tenaga manusia dengan peralatan seperti martelu, betel, cangkul dan sekop.

Ia menegaskan, berdasarkan pengamatannya, aktivitas penambangan tradisional di kawasan tersebut tidak menggunakan alat berat untuk melakukan penggalian.

“Dari zaman kolonial Belanda sampai sekarang tidak ada satupun masyarakat penambang di lokasi Panang dan Benteng Kotabunan yang menggunakan alat berat. Semuanya hanya dilakukan secara tradisional atau manual, mengandalkan otot atau tenaga manusia dengan peralatan apa adanya seperti martelu, betel, cangkul dan sekop,” terang Arsad.

Pola tersebut, menurutnya, menjadi karakter yang membedakan aktivitas penambangan masyarakat di kawasan Panang-Benteng dengan model pertambangan yang menggunakan investasi besar dan peralatan mekanis.

Penggalian dilakukan secara bertahap untuk mencari material yang mengandung emas. Aktivitas tersebut juga melibatkan tenaga kerja lokal yang berasal dari Kotabunan, Bulawan dan wilayah sekitarnya.

 

Dari Lubang Tambang, Menggerakkan Ekonomi Desa

 

Di balik aktivitas penggalian yang dilakukan secara sederhana, kawasan Panang dan Benteng memiliki arti penting bagi kehidupan ekonomi masyarakat.

Arsad menyebut aktivitas pertambangan tradisional telah menjadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, sekaligus membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar.

Tidak hanya penambang yang mendapatkan manfaat. Perputaran ekonomi juga ikut dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang tumbuh di sekitar kawasan tambang.

Warung makan, pedagang kebutuhan harian, jasa transportasi hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya ikut bergerak seiring dengan aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.

“Dari aspek sosial, keberadaan lokasi tambang Panang dan Benteng Desa Kotabunan yang dikelola secara tradisional melibatkan banyak tenaga lokal secara langsung tanpa menunggu kehadiran investasi modal besar dari luar,” kata Arsad.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sumber daya alam yang berada di wilayah sendiri dapat ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa.

 

Menjaga Lingkungan Jadi Sorotan

 

Bagi masyarakat penambang tradisional, keberadaan sumber daya emas bukan semata-mata persoalan ekonomi. Mereka juga menilai pentingnya menjaga kondisi lingkungan di sekitar lokasi aktivitas penambangan.

Penggunaan peralatan sederhana dan tidak digunakannya alat berat, menurut Arsad, menjadi salah satu alasan masyarakat menilai pola penambangan tradisional di Panang-Benteng relatif tidak memberikan dampak besar terhadap lingkungan sekitar.

Meski demikian, aktivitas pertambangan tetap membutuhkan pengawasan, tata kelola dan kepastian hukum agar keselamatan penambang, kelestarian lingkungan serta kepentingan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.

Bagi warga Kotabunan, Panang dan Benteng bukan sekadar lokasi pencarian emas. Kawasan tersebut telah menjadi bagian dari sejarah panjang daerah sekaligus sumber penghidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini, tantangannya adalah bagaimana aktivitas pertambangan rakyat tersebut dapat terus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, namun tetap berjalan dengan prinsip keselamatan, perlindungan lingkungan dan aturan hukum yang jelas.

Dengan sejarah panjang yang membentang sejak era kolonial hingga hari ini, tambang rakyat Panang-Benteng menjadi gambaran bagaimana kekayaan alam lokal telah menjadi bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat Kotabunan. (***)