BITUNG – Di tengah lonjakan kunjungan wisata yang menembus ratusan ribu orang setiap tahun dan gencarnya promosi pariwisata Kota Bitung, kondisi infrastruktur di kawasan wisata Kelurahan Batuputih, di wilayah Kecamatan Ranowulu Kota Bitung justru memperlihatkan wajah asli pemerintah yang dinilai lebih sibuk menjual citra ketimbang membenahi kebutuhan dasar.
Apakah destinasi yang telah mengharumkan nama daerah di mata dunia itu sengaja dibiarkan tertinggal? berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bitung menunjukkan jumlah wisatawan yang berkunjung sepanjang 2025 mencapai 676.616 orang, meningkat 54,90 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 436.795 orang.
Angka tersebut seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus peringatan keras bagi pemerintah daerah. Sayangnya, lonjakan itu justru tidak diimbangi dengan keseriusan membangun infrastruktur penunjang di lapangan.
Ironisnya, di balik keberhasilan promosi dan meningkatnya arus wisatawan, sejumlah persoalan mendasar di kawasan wisata Batuputih hingga kini belum juga diselesaikan. Jalan menuju destinasi wisata andalan itu masih rusak di sejumlah titik, sementara lampu penerangan jalan umum sangat minim. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah tampak lebih rajin menggelar seremoni dan kampanye wisata daripada memastikan akses menuju lokasi benar-benar layak dilalui.
Padahal, Batuputih bukan destinasi wisata biasa. Tidak sedikit wisatawan mancanegara datang khusus untuk menikmati wisata alam sekaligus melakukan pengamatan satwa liar di kawasan tersebut. Namun, penghargaan dunia itu seolah tidak cukup untuk membuat pemerintah bergerak cepat memperbaiki fasilitas dasar yang justru paling dibutuhkan.
Parahnya, para wisatawan yang berkunjung ke kawasan kampung wisata yang perna meraih prestasi di tingkat Nasional harus melalui ruas jalan sempit, dan rusak serta dimalam hari tanpa lampu penerangan diarea penginapan yang menjadi akses wisatawan berjalan kaki menuju pantai Batuputih.
Kondisi tersebut bukan hanya memalukan, tetapi juga membahayakan keselamatan. Lebih jauh lagi, situasi ini memperlihatkan betapa lemahnya perhatian pemerintah terhadap kawasan yang selama ini menjadi etalase pariwisata Bitung.
Fakta itu menghadirkan ironi yang sulit ditutupi. Ketika angka kunjungan wisata terus meningkat dan sektor pariwisata digadang-gadang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah, infrastruktur dasar di destinasi unggulan justru dibiarkan terbengkalai.
Pemerintah seolah hanya pandai memanen pujian dari keberhasilan promosi, tetapi abai terhadap pekerjaan rumah paling mendasar: membangun akses yang layak.
Pemerhati pariwisata Sulawesi Utara, Hendri Jack Palamia menilai pertumbuhan kunjungan wisatawan seharusnya menjadi dasar pemerintah untuk bergerak lebih cepat, bukan malah terlambat dan terkesan menunggu masalah menjadi semakin parah.
“Data kunjungan yang terus meningkat semestinya menjadi alarm keras bagi pemerintah, bukan sekadar bahan laporan dan pencitraan. Akses jalan yang baik, penerangan yang memadai, serta fasilitas pendukung lainnya adalah kebutuhan mendasar. Kalau hal paling dasar saja tidak dibenahi, lalu apa sebenarnya yang sedang dikerjakan pemerintah?” ujarnya. Kamis (24/07/2026)
Menurutnya, Batuputih merupakan wajah pariwisata alam Kota Bitung yang telah dikenal dunia karena kekayaan keanekaragaman hayatinya. Karena itu, wilayah tersebut tidak pantas diperlakukan seperti wilayah pinggiran yang hanya diingat saat ada agenda promosi atau kunjungan pejabat.
“Promosi pariwisata memang penting, tetapi tanpa infrastruktur yang layak, semua itu hanya menjadi slogan kosong. Pemerintah tidak bisa terus-menerus menjual nama Batuputih ke dunia, sementara jalan menuju lokasi dibiarkan rusak dan gelap. Itu bukan pembangunan, itu pembiaran. Infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan ukuran nyata apakah pemerintah benar-benar peduli atau hanya pandai bicara,” katanya.
Terpisah Juru Bicara Pemkot Bitung, Altin Tumengkol saat dihubungi awak media, menyampaikan jika pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait, ‘Sebentar saya akan minta data ke Dinas PU dan Pariwisata,” singkatnya.
BPS juga mencatat pada tahun 2025 Kota Bitung memiliki 62 hotel dan penginapan, yang terdiri atas lima hotel berbintang, 23 hotel melati, 20 resor, dan 14 homestay. Data tersebut menunjukkan sektor akomodasi terus berkembang mengikuti meningkatnya jumlah wisatawan. Namun, pertumbuhan itu justru makin menegaskan satu hal: pemerintah tidak punya alasan untuk terus menunda perbaikan akses dasar ke kawasan wisata utama.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, untuk apa promosi pariwisata dilakukan secara besar-besaran jika akses menuju destinasi unggulan masih gelap, rusak, dan jauh dari standar layak? Apakah pemerintah hanya ingin menikmati angka kunjungan tanpa mau menanggung konsekuensi pembangunan yang seharusnya menyertainya?
Pertumbuhan kunjungan wisata semestinya menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera memperkuat infrastruktur penunjang. Tanpa jalan yang layak, penerangan yang memadai, dan fasilitas pendukung yang baik, keberhasilan promosi pariwisata hanya akan menjadi kosmetik politik yang menutupi kelalaian nyata di lapangan.
Batuputih telah membawa nama Kota Bitung dikenal di panggung pariwisata dunia. Kini publik menanti apakah pemerintah masih punya keberanian untuk bekerja sungguh-sungguh, atau terus membiarkan destinasi kebanggaan itu tertinggal di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang tercatat bukan keberhasilan pembangunan, melainkan kegagalan pemerintah merawat aset daerah yang paling berharga. (*)
