BITUNG — Fenomena getaran disertai bunyi misterius dari dalam tanah di Kelurahan Madidir Ure, Kota Bitung, terus berulang dan menunjukkan peningkatan intensitas pascagempa berkekuatan 7,6 magnitudo yang mengguncang wilayah Sulawesi, awal April lalu.
Di tengah meningkatnya frekuensi dan durasi kejadian, warga mulai mempertanyakan potensi risiko yang mungkin ditimbulkan serta sejauh mana kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Salah satu warga, Wolter, mengungkapkan bahwa pola kemunculan fenomena tersebut kian tidak wajar. Jika sebelumnya terjadi dalam rentang waktu mingguan, kini hanya berselang hitungan hari.
“Sekarang jarak getaran (fenomena.red) sudah berjadak dua hari setelah fenomena terakhir terjadi, dengan durasi lebih lama. Ini yang bikin kami khawatir,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan adanya aktivitas geologi di bawah permukaan, terutama berkaitan dengan pergerakan sesar aktif pascagempa.
Dalam beberapa kasus, fenomena bunyi dan getaran dari dalam tanah kerap dikaitkan dengan proses penyesuaian struktur batuan akibat tekanan tektonik.
Mengacu pada kajian yang dikutip CNBC Indonesia, wilayah Sulawesi berada di atas sistem patahan kompleks, termasuk Sesar Palu-Koro yang terhubung hingga ke dasar laut.
Karakter sesar ini memungkinkan terjadinya pelepasan energi secara cepat dan luas, bahkan berpotensi memicu deformasi dasar laut.
Peristiwa Gempa dan Tsunami Palu 2018 menjadi contoh nyata bagaimana pergerakan sesar tidak hanya berdampak di daratan, tetapi juga memicu bencana lanjutan berupa tsunami akibat perubahan struktur dasar laut.
Meski belum ada kesimpulan ilmiah terkait fenomena di Bitung, pola yang terjadi dinilai perlu mendapat perhatian serius, mengingat adanya kemiripan indikasi awal berupa aktivitas bawah permukaan pascagempa.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bitung mengaku telah melakukan langkah awal berupa koordinasi dengan instansi teknis dan pengambilan sampel di lokasi.
Kepala Pelaksana BPBD Bitung, Fivy Kadeke, menyatakan bahwa penelitian masih berlangsung dan hasilnya belum dapat dipastikan dalam waktu dekat.
“Kami sudah berkoordinasi dan tim teknis telah melakukan penelitian awal. Saat ini masih menunggu hasil kajian,” ujarnya.
Namun demikian, belum adanya hasil kajian yang dipublikasikan secara terbuka memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait transparansi informasi dan mitigasi risiko jangka pendek.
Sejauh ini, belum terlihat adanya langkah antisipatif yang lebih konkret seperti pemasangan alat pemantau getaran, pemetaan zona rawan, maupun sosialisasi intensif kepada warga terkait potensi bahaya dan prosedur evakuasi.
Padahal, dalam situasi pascagempa besar, fase penyesuaian struktur geologi dapat berlangsung dalam kurun waktu tertentu dan berpotensi menimbulkan fenomena lanjutan, baik dalam skala kecil maupun besar.
Hingga kini, warga Madidir Ure masih hidup dalam ketidakpastian di antara suara dari dalam tanah yang belum terjawab, dan harapan akan kepastian langkah dari pemerintah. (***)




