BITUNG – Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kota Bitung, kian mengukuhkan diri sebagai destinasi ekowisata kelas dunia. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat signifikan, didominasi turis mancanegara.
Data Balai KSDA Sulawesi Utara mencatat, sepanjang 2023 hingga 2025, sebanyak 24.746 wisatawan berkunjung ke kawasan ini. Menariknya, sekitar 83 persen di antaranya merupakan wisatawan asing.
“Kondisi ini menunjukkan TWA Batuputih semakin dikenal di tingkat internasional sebagai destinasi wisata berbasis konservasi,” ujar Kepala Balai KSDA Sulut, Danny Hendry Pattipeilohy, disela – sela kunjungan kerja Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI, Catur Endah Prasetiani TWA Batu putih. Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, kekuatan utama kawasan ini terletak pada keanekaragaman hayati endemik yang menjadi daya tarik utama wisatawan, seperti tarsius (tangkasi), monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra), kuskus, hingga ratusan jenis burung.
Lonjakan kunjungan wisatawan turut berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat lokal. Usaha homestay hingga jasa pemandu wisata berkembang pesat di Kelurahan Batuputih.
“Sebanyak 17 kelompok pemandu wisata dengan total 68 orang telah dibina, dan semuanya merupakan masyarakat lokal,” jelas Danny.
Momentum penguatan kawasan ini juga terlihat dalam kunjungan kerja Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI, Catur Endah Prasetiani, yang dirangkaikan dengan pelepasliaran lima satwa endemik, di TWA Batuputih, Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu Kota Bitung.
Satwa yang dilepasliarkan terdiri dari satu burung perkici dora, satu elang laut perut putih, serta tiga ekor tarsius. Seluruhnya merupakan hasil penyelamatan petugas dan penyerahan masyarakat yang telah melalui proses rehabilitasi.
“Pelepasliaran ini bagian dari komitmen menjaga ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan wisata alam,” tegasnya.
Kawasan Tangkoko sendiri, yang meliputi Cagar Alam Dua Saudara, TWA Batuputih, dan TWA Batuangus, dikenal sebagai salah satu ekosistem penting di Sulawesi yang telah mendunia sejak era naturalis Alfred Russel Wallace.
Pemerintah pun terus mendorong pengelolaan kawasan berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat, guna menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan pertumbuhan sektor pariwisata. (*)

