Filosofi Suntiang di Museum Adityawarman

oleh -2847 Dilihat
oleh
Oleh: Sendy Sintia Rahmi (Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas).

MUSEUM Adityawarman adalah museum budaya provinsi Sumatra Barat yang terletak di kota Padang. Museum ini diresmikan pada 16 Maret 1977 mengambil nama besar salah seorang raja Malayapura pada abad ke-14.

Museum ini memiliki julukan taman mini ala Sumatra Barat, sebagai museum budaya, museum Adityawarman menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah, seperti cagar budaya nasional. Koleksi utama yang terdapat di Museum Adityawarman dikelompokkan ke dalam sepuluh macam jenis koleksi, meliputi geologika/geografika,biologika,etnografika,arkeologika,historika,numismatika/heraldika,filologika,keramalogika,seni rupa, dan teknalogika.

Salah satu dari koleksi tersebut yaitu suntiang yang dipakai dalam acara pernikahan di Minangkabau, pada ruang utama museum menampilkan dan mempresentasikan sisteam adat Minang dengan penjelas terstruktur mengenai hubungan kekerabatan dalam adat Minangkabau.

Minangkabau sendiri menggunakan sistem matrilineal sehingga perempuan memegang pengaruh kuat di Minangkabau. Aktivitas perempuan Minang dipaparkan dengan apik di area museum, mulai dari mengasuh anak, memasak untuk keluarga dan lingkungan lebih luas, sampai tradisi lisan yang berupa pantun sebagai sarana ibu menanamkan nilai kehidupan bagi anak.

Kesenian banyak ditampilkan dalam upacara-upacara adat, salah satunya adalah upacara pernikahan dan di salah satu sudut museum terdapat ruang peragaan pelaminan pernikahan adat Minang.

Dalam busana adat tradisional perkawinan di Minangkabau seorang wanita yang akan mengadakan pesta perkawinan menggunakan pakaian adat yang dilengkapi dengan suntiang sebagai pelengkap hiasan pengantin. Suntiang dalam masyarakat Minangkabau melambangkan kebesaran mempelai wanita atau anak daro saat menikah. Suntiang memiliki desain bertingkat-tingkat dalam bentuk setengah lingkaran.

Biasanya suntiang dihias dengan motif bunga kecubung, motif bunga melati, motif bunga mawar dan lain-lain. Setiap motif bunga memiliki makna tersendiri, seperti motif bunga melati melambangkan makna bahwa seorang mempelai wanita akan menjadi ratu sehari maka haruslah dihiasi dengan bunga yang indah. Suntiang dalam masyarakat Minangkabau tak hanya tediri dari satu jenis saja.

Setiap daerah memilki model dan nama suntiang tersendiri. Suntiang memiliki berbagai macam bentuk, ukuran, berat, nama, dan motif. Setiap perbedaan itu memiliki makna yang terkandung di dalamnya karena suntiang membawa nilai-nilai filosofis.

Suntiang yang dipakai oleh mempelai wanita melambangkan tanggung jawab yang akan diemban oleh seorang wanita dalam kehidupan berumah tangga maupun bermasyarakat. Suntiang yang dipakai oleh anak daro juga membawa makna dan pemahaman bahwa seorang wanita yang sudah menikah telah beralih menuju dewasa. Maka anak daro atau mempelai wanita tersebut dituntut mampu bersikap bijak, dewasa, serta membawa manfaat baik bagi keluarga serta masyarakat sekitar tempat hidupnya dan mampu memikul tanggung jawab dengan baik.

Suntiang juga memberi pemahaman bahwa menjadi seorang istri atau ibu bukanlah tanggung jawab yang mudah, akan tetapi dalam menjalani peran tersebut harus senantiasa bersikap baik, sopan dan anggun.
Berikut koleksi suntiang yang terdapat di Museum Adityawarman :

1. Suntiang Pisang Saparak/Sanggua Bungo

Suntiang Pisang Saparak ialah busana penganting Minangkabau yang berasal dari Nagari Salayo, Nagari Salayo merupakan suatu daerah yang berada di Kabupaten Solok, nagari ini merupakan nagari tertua di Kecamatan Kubuang Tigo Baleh dan berbatasan langsung dengan kota Solok, serta termasuk ke dalam provinsi Sumatera Barat atau yang lebih dikenal dengan wilayah Minangkabau.

Penduduk nagari Salayo berasal dari penduduk yang pindah dari luhak atau Kabupaten Tanah Datar, jadi dahulunya nagari ini termasuk kedalam wilayah rantau. Di nagari Salayo ini, masyarakatnya masih tetap menggunakan aksesoris atau pakaian pengantin asal daerahnya sampai saat ini, walaupun desainya tidak semewah suntiang gadang namun suntiang pisang saparak/bungo sanggua ini memeliki charisma tersendiri, serta dipadu padakan dengan busana yang berwarna htam, membuatnya terlihat elegan dan menarik.

Karena busana ini mengandung arti dan makna yang mendalam, dan pada setiap daerah memiliki busana pengantin yang berbeda-beda pula, serta juga mengandung filosofi yang berbeda-beda pula. Aksesoris pengantin telah diwarisi secara turun-temurun oleh nenek moyang setiap daerah.

Namun dengan perkembangan zaman baik dari segi pengetahuan dan teknologi, masyarakat mulai melakukan inovasi, misalnya saja suntiang (aksesoris pengantin umumnya di daerah Sumatera Barat) yang dulunya dipakai dan disusun dari tusukan kecil dan dibentuk melengkung hingga menjadi seperti mahkota yang tinggi dan besar, namun sekarang tidak perlu bersusah payah untuk merangakainya karena sudah ada suntiang yang sudah jadi.

Berbeda dengan hiasan kepala di Nagari Salayo, yang terlihat lebih sederhana namun mash terdapat unsur mewah. Tidak sebesar suntiang yang biasa dipakai pengantin Sumatera Barat suntiang pisang saparak/bungo sanggua hanya berbentuk serumpun pohon atau bunga berjajar membentuk suatu rangkaian dengan bentuk terlipat dan kalau dilihat dari samping seperti atap dari rumah.

Selain aksesoris kepala juga terdapat aksesoris lainnya yang dikenakan oleh pengantin di nagari Salayo antara lain : 1. Bagian Kepala: ( Suntiang Pisang/Sanngua Bungo, Topi penyangga suntiang, Kote-kote, Subang), 2. Bagian Leher ( Kaluang jala, kaluang gadang, kaluang pinyaram) 3. Bagian Tangan ( Galang gadang, galang bapahek 4. Bagian Bawah (Selop).

2. Suntiang Gadang

Masyarakat Padang Pariaman adalah masyarakat yang hidup dan menetap di wilayah rantau bagian pesisir. Kondisi seperti ini telah mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

Salah satunya suntiang, dimana suntiang merupakan bentuk percampuran budaya cina dan masyarakat setempat, (Mutia, 200:41). Dan sampai sekarang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Padang Pariaman bahkan telah meluas ke seluruh wilayah Minangkabau. Hal ini terjadi tidak terlepas dari keindahan warna dan keberagaman hiasan yang ada dalam suntiang tersebut.

Ragam hias yang dijadikan sebagai elemen pembentuk suntiang umumnya terinspirasi dari apa yang ada di lingkungan alam sekitarnya, baik yang ada di darat, di udara maupun di laut. Sesuai dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau pada umumnya yaitu alam takambang jadi guru, bahwa semua yang ada di alam luas dapat dijadikan guru atau contoh yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Hal itu telah menginspirasikan masyarakat Padang Pariaman untuk menjadikan alam sebagai sumber ide dalam pembentukan suntiang sejak dulunya. Suntiang Gadang adalah salah satu benda kriya yang sangat berarti dalam kehidupan sosial masyarakat Padang Pariaman terutama dalam adat perkawinan. Keberadaan ragam hias sebagai elemen pembentuk suntiang tidak saja berfungsi sebagai hiasan untuk memperindah , tetapi juga terkandung makna yang mengandung pesan yang harus dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sosial berumah tangga, agar terciptanya rumah tangga yang rukun dan bahagia.

Suntiang Gadang di dalam kehidupan masyarakat Padang Pariaman dikenal dengan suntiang sarai sarumpun dan suntiang kambang. Pemberian nama ini tentunya tidak terlepas dari bentuknya, dimana secara visual suntiang gadang berbentuk setengah lingkaran menyerupai kipas yang sedang terkembang dan tertata di atas kepala anak daro.

Pesan simbol motif bunga yang membentuk suntiang gadang memiliki yang ditujukan untuk pengantin pri, bahwa perempuan yang dinikahinya itu ibarat sekuntum bunga yang harus di jaga. Si pengantin pria harus bertanggungjawab penuh agar kebaikan dan keindahan yang dimiliki pasangan dapat terjaga, suntiang gadang lebih didominasi oleh motif bunga. Bunga adalah bahagian yang sangat menarik dari tumbuh-tumbuhan dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari diibaratkan sebagai bunga yang sedang mekar.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.