Sangihe, SuaraSulut.com — Selang waktu Januari hingga September 2022, kasus kekerasan seksual bagi anak dibawah umur sangat menonjol di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Daerah (DP3AD) Kepulauan Sangihe Vebe Adriani Bawole saat ditemui awak media pada Rabu (12/10/2022) di ruang kerjanya membenarkan hal tersebut.
Menurut Bawole, pada tahun 2022 kasus kekerasan seksual terhadap anak, jumlahnya naik signifikan dibanding tahun 2021.
“Sesuai data serta jumlah pengaduan yang diterima DP3A Sangihe, sejak januari hingga september 2022 sebanyak 49 Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur dan yang paling banyak terjadi di wilayah Kota Tahuna,”kata Bawole
Lanjut Bawole, dengan banyaknya kasus yang terjadi, dalam waktu dekat ini DP3A Sangihe akan melaksanakan Sosialisasi terkait dengan kekerasan seksual terhadap anak.
“Nantinya sebagai narasumber, kami akan undang Pak Kapolres Kepulauan Sangihe, dan fokus kami sosialisasi dilaksanakan di Kecamatan Tahuna Induk, Tahuna Barat dan Tahuna Timur sebagaimana wilayah jumlah tertinggi kasus kekerasan seksual terhadap anak,”ungkap Bawole
Sedangkan untuk luar kota Tahuna, menurut Bawole, Tabukan Utara menjadi kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi.
“Tentu, para orang tua, anak-anak dan guru akan kami undang dalam sosialisasi, sehingga himbauan dan arahan terkait kekerasan seksual terhadap anak benar-benar tepat sasaran dalam upayah mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan,” tutup Bawole.
(Erick Sahabat)






