Balitbang Mitra Gelar Forum Diskusi Kajian Analisis Ratio Gini

oleh -3197 Dilihat

SuaraSulut.com, Mitra – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) menggelar forum diskusi kajian analisis ratio gini, Rabu (31/08/2022).

Forum diskusi ini melibatkan beberapa pihak terkait, diantaranya Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, BAPPEDA, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Badan Pusat Statistik, BPKPD, juga Staf Ahli Bupati bidang ekonomi, serta perwakilan 12 Kecamatan, bahkan unsur Balitbang yang menjadi moderator Dr Apt Agustince N Kula S.Si M.kes, serta Dr Een N. Walewangko SE MSE yang hadir sebagai narasumber, didampingi Dr Agnes Lapian SE MSi bersama Ketua LPPM Unsrat, Prof Dr Ir Charles L Kaunang MS, sebagai Tim Pengendali Mutu.

Kepala Balitbang Mitra dr Tommy Soleman mengatakan, tujuan dari pelaksanaan diskusi ini untuk mengetahui seberapa efektif program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk akselerasi penguatan ekonomi dan peningkatan usaha kecil.

“Ratio gini adalah salah satu indikator dari perekonomian daerah. Ini juga bisa mengukur efektifitas program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah, terlebih di situasi pandemi, ini juga salah satu langkah untuk mengetahui seberapa besar masyarakat yang terdampak covid yang kemudian menjadi pengangguran.

Lanjut dikatakan Soleman, berdasarkan penilaian tahun ini terlebih khusus untuk peningkatan ekonomi masyarakat diantaranya, kelompok pendapatan 1,5 – 3 juta sebesar 31,29%; kelompok pendapatan < 1,5 juta sebesar 28,57%; kelompok pendapatan 3 – 5 juta sebesar 22,79%; dan Kelompok pendapatan lebih 5 juta sebesar 17,35%.

“Jadi, kesimpulannya dari hasil penilaian saat ini, untuk tahun 2021 pencapaian ratio gini Kabupaten Mitra masuk dalam kategori ketimpangan rendah yaitu 0.33.

Ditambahkan Soleman, berdasarkan hasil penilaian diatas, rekomendasi hasil kajian untuk memperkecil ketimpangan pendapatan masyarakat adalah sebagai berikut :

1. Peningkatan program pemberdayaan masyarakat desa
2. Pengembangan potensi ekonomi lokal/desa dengan pemberdayaan Bumdes
3. Pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *