Manado- Angka pertumbuhan ekonomi (PE) Sulut condong membaik. Melampaui kinerja PE tahun 2020. Meski baru triwulan tiga (Q3), tapi secara kumulatif maupun year on year potret PE Sulut berada di atas angka psikologi. Itu artinya dapur ekonomi warga Sulut tetap hidup. Pemerintah Sulut mampu mengatasi krisis akibat pandemi Covid 19 yang mendera dunia sejak 2020-2021.
Asumsi itu tergambar saat Refleksi 2021 yang digelar Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulut di Gedung Graha Pena Manado Post, penghujung akhir 2021 lalu.
Dialog tahunan bertema Refleksi Ekonomi Sulut dibuka Ketua Presidium Sulut Dr Asripan Nani. Kaban Perpustakaan dan Arsip didampingi Presidium KAHMI Sulut Dr Abdurrahman Konoras dan Sekum KAHMI Sulut Mazhabullah Ali.
Asripan yang faham ekonomi pemerintahan menyentil ekonomi dan turunannya butuh revitalisasi. Harus dilakukan secara konsisten dan semua dimensi. Kata Nani, angka PE Sulut tumbuh 4,4 persen di atas rata-rata nasional di triwulan 3. Itu menandakan mesin ekonomi mampu memutar sel sel sector terkait dengan kepentingan masyarakat.
“Kami sangat optimis ketika BI atau BPS merilis data PE 2022 lebih baik, maka tahun 2022 sumber dana dari pusat maupun pendapatan daerah akan berdampak ke bawah. Karena korelasi dana pusat untuk infrastruktur yang banyak akan merangsang investor untuk tanamkan duitnya ke Sulut. Secara langsung akan menyedot SDA dan SDM local Sulut,”katanya.
Hanya saja, Asripan agak prihatin dengan ketimpangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 73,3. Sulut secara rata-rata masih bagus. Urutan 5 besar se Indonesia. Hanya sayang, banyak daerah di Bolmong raya IPM terendah dari 15 kabupaten kota di Sulut.
“Ada anomali. IPM Bolmong raya paling rendah. Padahal usia harapan hidup dan lamanya sekolah sudah rata-rata 9 tahun. Yang kurang pendapatan per kapita yang rendah,”katanya.
Dialog sore itu dibatasi oleh moderator Idham Malewa sekira 2 jam. Pembahasnya juga dibatasi dua orang. Suhendro Boroma bicara terkait ekonomi makro dan ketimpangan ekonomi dan sosial serta Dr Abdurrahman Konoras menyentil terkait mutu SDM.
Dialog diikuti secara online melalui googlemet ada off air di Graha Pena MP lantai dua.
Suhendro Boroma mengurai secara detil semua indicator ekonomi makro. Dimulai dari PE 2021 yang naik ke level 4,4 atau di atas agregrat nasional. Kemudian fluktuasi harga yang memperngaruhi tingkat inflasi. Tingkat pengangguran dan tingkat Angkatan kerja yang condong turun. Pada posisi September 2021, pengangguran 7,06 persen, masih lebih kecil disbanding 2020 berkisar 72,9 persen.
“Sesuai hasil penyampaian BI, angka pengangguran ada di kota. Paling banyak perempuan khususnya ibu rumah tangga,”beber Boroma.
Di akhir sesi, Boroma menarik kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berkualitas. Dengan kata lain multiflier effect ikut dirasakan segmen lain. Untuk dapat berkualitas, pemerintah harus perkuat pengawasan sembari perbanyak infrastruktur di kabupaten yang IPM di bawah.
“Perbanyak sumber daya anggaran di daerah yang IPM tertinggal, seperti daerah Bolmong raya,” katanya.
Untuk itu, semua stakeholders terkait harus sama-sama dorong ke atas kepada pusat dan gubernur.
“Jalan keluar adalah relokasi anggaran fisik ke daerah yang rendah IPM. Hanya pemerintah melalui anggaran negara baik APBN atau APBD yang bisa mendorong roda ekonomi daerah,”katanya.
Prof Rahman Konoras menyentil mengenai perlindungan tenaga kerja local. Tenaga kerja daerah harus siap pakai dengan kemampuan daya saing baik.(wal/*)





