Suhendro Putra Togid Terpangil Bangun dan Bawa Boltim Hebat

oleh -281 views

SUARASULUT.COM,BOLTIM– Mendapat amanah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menjadi calon Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) di Pilkada Boltim, muncul pertanyaan siapa sosok Suhendro Boroma, hingga partai besutan Ketua Umum Megawati Soekarno Putri memutuskan Papa Aji sapaan akrabnya dan Papa Keken sapaan Rusdi Gumalangit.

Sekadar catatan dan dihimpun dari sejumlah sumber, Suhendro Boroma, panggilan akrab Edo, atau Om Edo, atau Papa Aji. Lahir di Togid Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) pada 15 Agustus 1965.

Anak ke-8 dari 12 bersaudara. Dari garis ibu, kakak tertua Ratnadewi Damopolii, pensiunan guru. Disusul Ramlah Gaib, Rohana Gaib, Zulfaki Gaib (Alm), terakhir menjabat Kadis Pariwisata Boltim.

Dari garis ayah, kakak tertua Marto Boroma (Alm), disusul Ismail Boroma, Muchtar Boroma (Alm), Burhan Boroma (Alm), dan Irianto Boroma, ASN di Balai Taman Nasional Dumoga Nani Wartabone. Punya adik Santima Boroma (wiraswasta) dan Benny Boroma, ASN di Boltim.

Ayahnya bernama Ahmadi Boroma, kakek Musa Boroma dan nenek Mina Olii, guru mengaji (baca Al-Qur’an), barjanzi dan hadrah di Togid dan desa-desa sekitarnya di tahun 1950 hingga tahun 1960-an. Adik-adik Ahmadi bernama Hamidu Boroma, Antule Boroma, Anunu Boroma, dan Djafar Boroma, pensiunan guru dan wafat di Paguyaman, Gorontalo.

Ayahnya pernah menjadi Sangadi Togid dua kali di paruh tahun 1960 hingga tahun 1970-an. Catatan peninggalan ayahnya ketika menjadi Sangadi Togid maupun setelah mantan sangadi, antara lain memimpin warga Togid membuka lahan perkebunan di Tudu in Bonung dan Buyayut Togid. Menjadi salah satu penggerak untuk memindahkan warga ke sekitar lapangan, sekaligus membangun lapangan Togid yang digunakan hingga sekarang.

Ayahnya adalah yang pertama kali berinisiatif dan melakukan terobosan untuk memberdayakan Bunong (Danau) Togid untuk menjadi sumber pendapatan desa. Caranya, beliau sendiri yang menjadi penyewa pertama Bunong Togid. Dananya digunakan untuk pembangunan fasilitas publik desa, antara lain sekolah, masjid, balai desa. Sejak rintisan ayahnya itu, hingga sekarang Bunong Togid setiap tahun selalu ada penyewanya dan dananya semuanya digunakan untuk membangun atau meningkatkan fasilitas publik desa. Semasa menjadi Sangadi, ayahnya menghibahkan tanah pribadinya untuk dijadikan tempat membangun Sekolah Dasar Negeri Togid, dan kini menjadi salah satu asset Pemkab Boltim.

Peninggalan Ahmadi Boroma yang tak bisa diabaikan adalah ikut memimpin warga Togid untuk menyiapkan lahan dan tempat pemukiman eks warga Miangas yang melakukan transmigrasi lokal di desa Dodap Atas, atau Desa Desa Mikasa sekarang. Lahan pemukiman dan lahan perkebunan warga Desa Dodap Atas saat tiba dari Miangas merupakan “persembahan” warga Togid. Para orang tua Togid termasuk ayahnya, bersedia dengan ihlas berkorban memberikan lahan perkebunannya, sekaligus bergotong royong menyiapkan rumah-rumah sederhana yang layak untuk dihuni peserta transmigrasi lokal program Pemprov Sulut itu.

Dalam perkembangannya, harus diakui, warga Miangas yang tinggal di Dodap Atas ini ulet, rajin dan cepat beradaptasi dengan warga sekitar, khususnya warga Desa Togid. Sekarang Dodap Atas salah satu desa yang maju di Boltim, bersama desa-desa di sekitarnya.

Ibunya bernama Pingku Paputungan, kakek Asam Paputungan, nenek Daduke’e Mamonto. Kakak ibunya bernama Le’eg Paputungan, dan adik-adiknya No’i Paputungan, Pananggiri Mamonto, dan Lalong Mamonto. Pingku seorang ibu rumah tangga yang menyekolahkan Irianto Boroma, Suhendro Boroma, Santima Boroma, dan Benny Boroma saat ayahnya meninggal pada Desember 1980 kala EDO masih kelas 2 SMP. Untuk bisa menyekolahkan kakak, Edo dan dua adik, ibunya yang biasa disapa orang-orang di kampung “Mama Iya”, membuat kue-kue. EDO dan adik-adiknya jualan kue yang dibuat oleh ibunya, terutama “binarundak”, atau nasi jaha (nasi lemang).

Binarundak ibu saya favorit dan masih dikenang orang-orang Togid hingga sekarang. Kalau jualan gampang laku atau cepat habis. Setelah menunaikan ibadah haji di tahun 2000, ibunya meninggal pada 9 Maret 2003, dan dimakamkan di pekuburan Kelurahan Mogoloing, Kotamobagu.

Hingga di SMP, Suhendro kerap ikut jualan ikan hasil tangkapan soma dampar pamannya, Antule Boroma (Alm). Ikannya dijual dengan menggunakan pedati keliling desa-desa tentangga Togid, Tutuyan, Tombolikat, Kayumoyondi. Suhendro yang ‘nyetir’ pedatinya (roda), Tanta Len (Hj Len Masinambow), istri pamannya Antule Boroma, yang menentukan paket jualannya, harganya dan menjadi kasir berjalannya. Jika ikannya tidak banyak, cukup dijajakan dengan dipikul keliling Togid hingga Tutuyan. Saat paman Antule Boroma sudah bisa beli Kijang pickup, Suhendro jadi keneknya taksi Togid-Kotabunan.(bersambung/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *