Pemprov dan Unsrat Kolaborasi Kembangkan Sabut Kelapa

SUARASULUT.COM,MANADO– Harga Kopra tak kunjung sehat membuat Pemerintah Provinsi terus mencari terobosan, agar petani kelapa tak terus terpuruk.
Salahsatu terobosan dilakukan, Pemprov bersama Universitas Samratuangi Manado, mencoba kembangkan industri sabut kelapa.
Tujuannya, industri sabut kelapa menjadi solusi dan membuka peluang yan menguntungkan bagi petani.
Menurut Asisten bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sulut, Rudi M Mokoginta, kolaborasi tersebut akan menghasilkan inovasi mendatangkan nilai tambah bagi pertanian maupun perekonomian Sulut.
“Sabut kelapa merupakan limbah yang dimanfaatkan dengan sentuhan inovasi dan industri sehingga akan memberikan nilai tambah yang akan menguntungkan masyarakat petani,” tegas Mokoginta di Focus Group Discussion (FGD) Detailing Teaching Industry Pengolahan Kelapa, digelar di hotel salahsatu hotel ternama di kawasan jalan Piere Tendean.
Mokoginta berharap akan ditindaklanjuti dengan Memorandum of Understanding (MoU).”FGD ini akan diikuti dengan rencana kerja sama antara PT Rekadaya Multi Adiprima dan PT ICDX Logistik Berkat dan Pemprov Sulut,” aku Mokoginta.
Wakil Rektor bidang Akademik Prof Grevo Gerung berharap FGD akan dihasilkan teaching industri.”Komoditas sabut kelapa ini akan kita masukkan dalam industri. Kita punya ilmunya yang dapat dikembangkan. Tetapi untuk lahannya kita serahkan ke Pemprov Sulut. Makanya kita kolaborasi, sehingga inovasi sabut kelapa dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk,” akunya.
Wakil Rektor IV bidang Kerja Sama, Prof Sangkertadi mengatakan mencapai tujuan tersebut perlu disiapkan warehouse, rencana anggaran, Amdal dan perizinan yang kesemuanya diidentifiasi dan direncanakan dengan matang.
Sangkertadi merinci, sabut kelapa dapat diproduksi menjadi jok mobil, matras, kasur, tali tambang, cocomesh jaring sabut kelapa, coir net untuk pengerasan jalan hingga peralatan rumah tangga lainnya.
Menariknya, untuk mewujudkan inovasi sabut kelapa perlu laboratorium industri.
“Pada saat kita ekspor sabut kelapa, maka alat-alat pengukur untuk evaluasi produk kita, akan jadi pembelajaran. Dan ini sesuai dengan kebutuhan industri,” sebut Dr Ophirtus Sumule yang merupakan Former Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti.
“Harus ada standar laboratorium, metodologi dan peralatan. Kalau tanpa itu semua, maka akan sia-sia inovasi yang kita lakukan, karena harus ada standar yang ditetapkan,” pungkasnya.(wal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *