Ini Poin-Poin Penting FGD Detailing Teaching Industry Pengolahan Kelapa

SUARASULUT.COM,MANADO– Focus Group Discussion (FGD) Detailing Teaching Industry Pengolahan Kelapa, digelar di hotel salahsatu hotel ternama di kawasan jalan Piere Tendean, berhasil melahirkan beberapa poin penting.
Seperti PT Rekadya Multi Adiprima berkomitmen mengolah sabut kelapa menjadi produk kayu dan kebutuhan lainnya memiliki nilai ekonomi tinggi.
Bisnis Developmet Corporate PT Rekadaya Multi Adiprima, Farry Aditya menegaskan sabut kelapa Sulut sangat melimpah. Sebab kalau luasan lahan tercatat 280 ribu hektar, maka dapat dipastikan limbah sabut kelapa yang dihasilkan dapat mencapai 280 ribu ton per tahun.
“Sulut sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di Indonesia. Nah sekarang ketika produk turunan kelapa sudah terbaca dan terlihat, ternyata dari sekian banyak itu masih ada satu yang belum tersentuh secara baik, yakni sabut kelapa,” tegasnya.
“Kalau kita bicara kita menemukan harta karun lagi di Sulut itu adalah kalimat yang tepat. Kenapa karena pertama sabut kelapa itu hanya dibuang dan tidak pernah diolah. Dari zaman dulu sampai sekarang orang Indonesia hanya tahu bahwa sabut kelapa itu hanya untuk keset dan tali tambang, yang menurut saya itu teknologi yang sangat tradisional jauh dari inovasi atau research,” akunya.
Farry menambahkan agar produk inovasi sabut kelapa dapat disosialisasikan ke masyarakat. Mulai dari infsrtuktur sekolah dan lainnya.
“Itu adalah peluang bagaimana mengenalkan kepada siswa dan mahasiswa bahwa ada produk turunan kelapa. Mari kita hidupkan produk industri kelapa. Harus kita tunjukkan secara realita, dalam sejumlah produk seperti meja dan suvenir yang merupakan industri hulu ke hilir.
Lanjut Aditya, ketika inovasi dikembangkan, maka Sulut akan menjadi bagian dari satu provinsi yang pertama di Indonesia yang mengambil inisiatif pengembangan sabut kelapa.
“Dari akademisi Unsrat sudah masuk, bisnisnya ada Rekadaya, goverment dalam hal ini, Pemprov Sulut juga sudah masuk. Komuniti kelapa juga ada. Harapan kami investasi bisa lansung dapat direalisasikan.
“Sulut merupakan daerah yang memproduksi rumah panggung, tetapi sayang bahan bakunya masih mendatangkan dari tempat lain. Nah dengan adanya pengembangan sabut kelapa yang dijadikan kayu, maka kebutuhan dapat dipenuhi,” jelasnya.(wal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *