Jejak Pengasingan di Tanah Minahasa Tak Padamkan Perjuangan, Arianto H. Djaafar All Out Kawal Kiai Modjo Jadi Pahlawan Nasional

Manado, Perjuangan Kiai Modjo, panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro yang dibuang Kolonial Belanda ke Tanah Minahasa bersama para pengikutnya, kembali menggema untuk mendapatkan pengakuan tertinggi negara.

Tokoh masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) yang juga Sekretaris PAN Sulut sekarang menjabat Staf Khusus Gubernur, Arianto H. Djaafar, menyatakan siap mendukung penuh dan mensukseskan kunjungan Tim Peneliti dan Pengkajian Gelar Pusat (TP2GP) Kementerian Sosial RI untuk pengusulan gelar Pahlawan Nasional Kiai Modjo.

Arianto menilai, sejarah panjang pengabdian Kiai Modjo tidak boleh dilupakan, terutama kisah heroiknya saat diasingkan ke Minahasa.

“Dalam sejarah, Kiai Modjo dibuang oleh Kolonial Belanda ke Tanah Minahasa dengan beberapa pengikutnya setelah Perang Jawa. Tapi di pengasingan pun beliau tidak berhenti berjuang, beliau menyebarkan Islam, mengajarkan pertanian, dan membaur dengan masyarakat Minahasa hingga wafat dan dimakamkan di sana. Ini bukti nasionalisme dan keislaman yang paripurna,” ungkap Arianto H. Djaafar, Senin (26/10/2026).

Menurutnya, Kiai Modjo adalah representasi sempurna dari persatuan Indonesia. Lahir di Jawa, menjadi panglima di Tanah Jawa, namun mengakhiri pengabdiannya di Tanah Minahasa, Sulawesi Utara.

Oleh karena itu, Arianto bersama elemen masyarakat, tokoh lintas agama, akademisi, dan pemerintah daerah siap memfasilitasi kunjungan kerja TP2GP Kemensos RI agar dapat melakukan verifikasi faktual di lapangan, mulai dari jejak sejarah, makam di Desa Kiai Modjo, Kabupaten Minahasa Selatan, hingga naskah-naskah sejarah yang ada.

“Kami siap all out. Ini bukan hanya soal Jawa atau Sulut, ini soal keadilan sejarah bagi bangsa. Kiai Modjo layak disematkan gelar Pahlawan Nasional. Semua bukti sejarah, akademis, dan sosiologis sangat kuat,” tegasnya.

Diketahui, TP2GP Kemensos RI akan turun langsung ke Sulawesi Utara untuk melakukan penelitian, pengkajian, dan wawancara dengan para ahli sejarah, pemerintah daerah, dan keturunan untuk melengkapi berkas pengusulan.

Jika pengusulan ini berhasil, Kiai Modjo akan menjadi simbol perekat kebhinekaan, bahwa seorang ulama pejuang dari Jawa yang dibuang ke Minahasa tetap dicintai dan dihormati sebagai pahlawannya oleh masyarakat Sulawesi Utara.