Gubernur Sulut Diwakili Tahlis Galang Buka Festival Literasi Sulut 2026: Literasi Bukan Sekadar Membaca, Tapi Sejarah Akar Budaya Bangsa

Manado, Suasana malam di Manado pecah oleh semangat kreativitas anak muda. Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 resmi digelar dengan meriah, menjadi panggung bagi putra-putri generasi muda Sulut untuk menunjukkan karya dan ide-ide besar mereka.

Acara yang sarat makna budaya ini mengusung tema yang sangat dalam dan filosofis:“Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi Untuk Masa Depan Peradaban”.

 

Ketua Literasi Sulut, Standius Bara Prima, dalam sambutannya yang berapi-api menegaskan bahwa tugas generasi hari ini jauh lebih besar dari sekadar menjaga warisan.

“Tugas kita bukan hanya menjaga, namun membaca dan menuliskan kembali pada masa depan. Literasi adalah nafas dari sejarah kita,” tegas Standius di hadapan ratusan peserta dan pengunjung festival.

 

Momen Festival Literasi ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional. Standius pun tak lupa menyampaikan ucapan selamat dan mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai literasi sebagai bagian dari jati diri bangsa.

 

“Selamat Hari Batik Nasional. Mari merawat Literasi sebagai sejarah budaya bangsa. Batik adalah literasi, tulisan adalah batik yang kita goreskan untuk masa depan,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah.

 

Kehadiran Pemerintah Provinsi Sulut semakin menguatkan festival ini. Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, yang berhalangan hadir, diwakili oleh Tahlis Galang.

Mewakili Gubernur Sulut, Tahlis Galang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dari Pemprov Sulut untuk para pejuang literasi di daerah Nyiur Melambai.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan terima kasih kepada putra dan putri literasi Sulut yang telah bekerja keras dan bekerja sama hingga acara malam ini bisa terlaksana dengan luar biasa,” ujar Tahlis membacakan sambutan Gubernur.

Tahlis menegaskan, Festival Literasi malam ini bukan sekadar seremonial, melainkan telah menjadi wadah yang sesungguhnya bagi masyarakat Sulut untuk berekspresi, berdiskusi, dan berkreasi.

“Festival Literasi malam ini menjadi wadah bagi masyarakat Sulut untuk berkumpul dan bertumbuh,” katanya.

Ia juga mengingatkan pesan penting bahwa makna literasi harus diperluas.

“Literasi tidak sekadar dimaknai hanya dengan membaca. Literasi adalah kemampuan memahami, mengkritisi, dan menciptakan. Dari literasilah lahir pemimpin masa depan Sulut,” pungkas Tahlis.

Festival yang dihadiri oleh komunitas baca, penulis muda, pelajar, mahasiswa, dan pegiat budaya se-Sulut ini berlangsung penuh warna dengan berbagai pameran buku, diskusi budaya, pembacaan puisi, hingga peragaan batik khas Sulawesi Utara.