Juni 6, 2026

Di Usia Ke-19 Sitaro, Sangihe Kirim Pesan Kuat: Sinergi Nusa Utara Kunci Pembangunan Kepulauan

IMG_20260606_101307

SANGIHE, SuaraSulut.com Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) resmi menginjak usia ke-19. Namun, perayaan puncak yang digelar pada Senin (1/6/2026) lalu bukan sekadar rutinitas tahunan potong tumpeng atau parade budaya. Di balik kemeriahan acara, tersirat sebuah pesan strategis tentang pentingnya kolaborasi antar-daerah di kawasan Nusa Utara, terutama di tengah tantangan geografis dan ekonomi yang dihadapi wilayah kepulauan.

Hal ini tercermin dari kehadiran Sekretaris DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe, Ir. Riputri Tamaka, yang mewakili Bupati Sangihe. Kehadirannya, bersama Tony Mandak, ST dari unsur Pimpinan DPRD Sangihe, mengirim sinyal jelas bahwa batas administratif tidak boleh menjadi pembatas bagi kerja sama pembangunan.

Dalam sambutannya, Tamaka tidak hanya menyampaikan ucapan selamat seremonial. Ia menyoroti tema “Pulih, Bangkit dan Bersatu” sebagai cerminan realitas daerah kepulauan. Bagi Tamaka, tema ini bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak.

“Tantangan pembangunan di kawasan kepulauan memerlukan kolaborasi yang kuat,” tegas Tamaka. Pernyataan ini relevan mengingat Sitaro dan Sangihe, meski memiliki otonomi tersendiri, berbagi ekosistem sosial dan ekonomi yang saling terkait.

Tamaka menekankan bahwa kematangan usia Sitaro yang ke-19 harus dibarengi dengan kemampuan daerah untuk terus beradaptasi. “Semoga di usia yang semakin matang ini, Sitaro terus berkembang… dan mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya,” harapnya.

Uniknya, HUT ke-19 Sitaro tahun ini bertepatan dengan momentum nasional: Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dan Hari Lahir Pancasila. Penggabungan momen lokal dan nasional ini menciptakan nuansa khusus. Ini adalah pengingat bahwa semangat kebangkitan nasional dan nilai-nilai Pancasila harus diterjemahkan dalam aksi nyata di tingkat daerah, seperti memperkuat pelayanan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Para tokoh masyarakat, agama, dan Forkopimda yang hadir tampaknya sepakat bahwa persaudaraan antarwilayah di Nusa Utara adalah aset tak ternilai. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, kemampuan daerah-daerah tetangga untuk duduk bersama dan menyamakan visi adalah bentuk praktis dari “Bhinneka Tunggal Ika”.

Memasuki dekade ketiga usianya, Sitaro menghadapi ekspektasi yang lebih besar. Masyarakat tidak lagi hanya menunggu bantuan, tetapi menuntut partisipasi dan hasil pembangunan yang terasa. Sinergi dengan daerah tetangga seperti Sangihe bisa menjadi katalisator. Misalnya, dalam bidang pariwisata, perdagangan antar-pulau, hingga penanganan bencana alam yang sering mengintai wilayah kepulauan.

Namun, Satu hal yang pasti, semangat “Pulih, Bangkit dan Bersatu” yang digaungkan dalam HUT ke-19 Sitaro harus terus bergema, tidak hanya selama perayaan, tetapi dalam setiap kebijakan yang diambil oleh para pemimpin daerah di masa mendatang.

(***/Erick Sahabat)