Manado – Kota Manado berdampak pecemaran udara berasap beberapa hari, kini beberapa masyarakat kota Manado posting di media sosial Facebook mengenai pemberitian pembelajar tatap muka di sekolah. Dikarenakan asap tebal yang bisa membahayakan anak sekolah.
Dalam hal ini Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado Peter Bart Assa Ph.D menjelaskan aspirasi masyarakat agar kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk sementara diliburkan akibat kemarau panjang dan pencemaran udara di Kota Manado, kami tentu memahami dan menghargai kekhawatiran para orang tua terhadap kesehatan dan keselamatan anak-anak.” Perlu kami tegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan peserta didik merupakan prioritas utama yang tidak dapat ditawar. Namun, setiap kebijakan yang menyangkut kepentingan ribuan anak harus didasarkan pada pertimbangan yang objektif, rasional, dan dapat dipertanggung” ucapnya
Pertama, meliburkan sekolah sebenarnya bukanlah keputusan yang sulit secara administratif. Cukup melalui surat edaran atau instruksi resmi sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Namun, persoalannya bukan seberapa mudah keputusan tersebut diterbitkan, melainkan apakah kebijakan itu benar-benar menjadi solusi. Jangan sampai anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh pembelajaran yang efektif melalui bimbingan dan pengawasan langsung guru, sementara manfaat perlindungan kesehatannya belum dapat dipastikan.
Kedua, apakah meliburkan sekolah otomatis menghindarkan anak-anak dari paparan asap? Jawabannya saya kira belum tentu. Apabila konsentrasi pencemaran udara di lingkungan rumah relatif sama dengan di sekolah, memindahkan anak dari sekolah ke rumah tidak serta-merta mengurangi risiko gangguan pernapasan. Sebaliknya, apabila lingkungan rumah lebih aman atau perjalanan ke sekolah meningkatkan paparan, pembelajaran dari rumah tentu dapat menjadi pilihan yang lebih melindungi. Karena itu, yang perlu dibandingkan adalah risiko nyata di kedua lingkungan tersebut, bukan sekadar asumsi.
Ketiga, apakah tingkat pencemaran udara yang dilaporkan BMKG berlaku merata di seluruh Kota Manado? Kita perlu memastikan lokasi dan cakupan pengukuran, karena konsentrasi polusi dapat berbeda antarwilayah akibat sumber asap, arah angin, dan kondisi lingkungan. Apabila pencemaran serius hanya terjadi di wilayah tertentu, penyesuaian pembelajaran dapat diprioritaskan pada sekolah-sekolah terdampak. Namun, apabila risikonya meluas, kebijakan secara menyeluruh juga harus dipertimbangkan.
Keempat, pembelajaran daring memang merupakan alternatif, tetapi memiliki banyak keterbatasan dibandingkan pembelajaran tatap muka. Tidak semua anak memiliki perangkat dan akses internet memadai. Interaksi langsung dengan guru, pengawasan kedisiplinan, pembentukan karakter, pengembangan keterampilan sosial, pembelajaran praktik, dan penilaian hasil belajar juga tidak selalu dapat berlangsung seefektif pembelajaran luring.
Terlebih pada jenjang PAUD dan sekolah dasar, pembelajaran daring membutuhkan pendampingan orang tua, sementara tidak semua keluarga memiliki waktu dan kemampuan yang sama. Penggunaan perangkat digital secara berkepanjangan juga dapat mengurangi konsentrasi belajar. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi memperbesar kesenjangan capaian pembelajaran.
Pengalaman selama pandemi COVID-19 telah memberikan pelajaran bahwa memindahkan pembelajaran dari ruang kelas ke ruang digital bukanlah persoalan sederhana. Oleh karena itu, apabila pembelajaran tatap muka harus dihentikan, alternatif pembelajaran perlu dipersiapkan secara matang, termasuk pembelajaran dari rumah melalui modul atau penugasan terarah bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan akses teknologi.
Kelima, meliburkan sekolah bukan satu-satunya langkah perlindungan. Sekolah dapat melakukan mitigasi melalui pembatasan aktivitas luar ruangan, penyesuaian kegiatan pembelajaran, pengurangan masuknya asap ke ruang kelas, serta perhatian khusus terhadap peserta didik yang rentan mengalami gangguan kesehatan. Namun, apabila kondisi telah membahayakan, penghentian sementara pembelajaran tatap muka harus segera dipertimbangkan tanpa menunggu timbulnya korban gangguan kesehatan.
Keenam, kebijakan juga harus mempertimbangkan kondisi sosial keluarga. Tidak semua orang tua dapat mendampingi anak belajar di rumah, dan tidak semua rumah memiliki lingkungan belajar yang memadai. Karena itu, penyesuaian pembelajaran perlu dirancang agar tidak memperbesar ketimpangan pendidikan. Meski demikian, pertimbangan tersebut tidak boleh mengalahkan prioritas keselamatan anak.
Ketujuh, keputusan harus berbasis data dan rekomendasi teknis. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus memandang penting koordinasi dengan BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, BPBD, serta pemerintah daerah untuk mengetahui tingkat pencemaran, sebaran wilayah terdampak, dan risiko kesehatan peserta didik. Apabila terdapat ancaman yang mendesak, langkah perlindungan sementara tetap dapat dilakukan berdasarkan informasi terbaik yang tersedia sambil melengkapi kajian.
Kedelapan, kebijakan harus proporsional, adaptif, dan dapat dievaluasi. Sekolah yang masih memungkinkan melaksanakan pembelajaran tatap muka secara aman dapat menerapkan langkah mitigasi, sedangkan sekolah di wilayah berisiko tinggi dapat menyesuaikan pembelajaran. Apabila kondisi memburuk, kebijakan harus segera diperketat; sebaliknya, ketika situasi membaik dan dinyatakan aman, pembelajaran normal dapat dipulihkan.
Pada akhirnya, keselamatan anak dan keberlangsungan pendidikan bukanlah dua kepentingan yang harus dipertentangkan. Keduanya merupakan tanggung jawab pemerintah yang harus dijaga secara bersamaan.
Kami sama sekali tidak menutup kemungkinan penghentian sementara pembelajaran tatap muka apabila kondisi memang mengharuskannya. Namun, keputusan tersebut harus benar-benar memberikan perlindungan yang nyata, tepat sasaran, dan tidak sekadar memindahkan anak-anak dari sekolah ke rumah tanpa mengurangi risiko yang mereka hadapi.
Bagi kami, meliburkan sekolah itu mudah. Tetapi memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar melindungi kesehatan anak, tanpa mengabaikan hak mereka memperoleh pendidikan yang berkualitas, merupakan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Pemerintah harus bertindak cepat ketika keselamatan anak terancam, tetapi juga harus memastikan setiap kebijakan didasarkan pada pertimbangan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Doa dan Harapan untuk Kota Manado
Akhirnya, di tengah berbagai upaya yang terus dilakukan, marilah kita bersama-sama berdoa agar musim kemarau panjang ini segera berakhir.
Pemerintah senantiasa berupaya melakukan yang terbaik untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan, tetapi kita pun bersyukur karena di beberapa kawasan Kota Manado hujan mulai turun. Semoga ke depan hujan semakin merata, membantu memadamkan kawasan yang terbakar, mengurangi pencemaran akibat asap, serta memulihkan kualitas udara di kota yang kita cintai ini.
Sambil terus berdoa, kita juga harus tetap waspada, menjaga lingkungan, mencegah kebakaran baru, dan bersama-sama melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak kita.
Tutup Kadis Dikbud Manado Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melindungi Kota Manado dan seluruh masyarakatnya. ” hujan segera membawa kesejukan, langit kembali cerah, udara kembali bersih, dan anak-anak kita dapat belajar serta beraktivitas dengan aman, sehat, dan penuh sukacita.” Kunci Assa.(Agung)
