Sulut Dilanda Panas Ekstrem! Hendry Walukouw Terima Keluhan Pilu Warga: Torang So Stengah Mati Mo Dapa Air

Sulut, Fenomena cuaca panas berkepanjangan yang melanda Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dalam beberapa bulan terakhir mulai menimbulkan dampak serius bagi masyarakat.

Krisis air bersih kini menjadi ancaman nyata di sejumlah wilayah. Salah satunya di Kabupaten Minahasa Utara.

Hal ini disampaikan Anggota DPRD Sulut Dapil Minut-Bitung, Hendry Walukouw, usai mengikuti Rapat Paripurna Dalam Rangka Penyampaian Penjelasan Gubernur Terhadap Ranperda Provinsi Sulut Tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran (TA) 2027.

Rapat Paripurna tersebut juga sekaligus mendengarkan Pemandangan Umum Fraksi-fraksi, serta Tanggapan dan Jawaban Gubernur terhadap pemandangan umum fraksi-fraksi.

Namun di luar agenda formal tersebut, Hendry mengaku justru mendapat laporan darurat dari masyarakat di daerah pemilihannya.

Di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026), Hendry Walukouw mengungkapkan dirinya baru saja menerima telepon dari salah satu Pendeta yang ada di Desa Tatelu, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara.

Laporan tersebut sangat memprihatinkan. Sumur milik masyarakat yang memiliki kedalaman hingga 20 kolom, kini sudah kering total.

“Masyarakat mengeluh dorang so stengah mati mo dapa air bersih untuk mo makan dan minum. Tolong Pak Hendry drop akang air pa Torang,” ungkap Hendry menirukan keluhan warga Tatelu tersebut.

Menurut Hendry, kondisi ini bukan hanya terjadi di satu titik, melainkan hampir merata di wilayah Minut dan Bitung akibat panas yang tidak kunjung turun dan minimnya curah hujan yang diduga dampak dari fenomena El Nino.

“Warga sudah sangat kesulitan. Untuk kebutuhan makan, minum, mandi saja susah. Ini sudah masuk kategori darurat kekeringan,” tegasnya.

Menanggapi permintaan warga yang meminta bantuan drop air bersih, Hendry Walukouw mengaku dilema. Sebagai wakil rakyat, ia tentu ingin membantu secepatnya.

Namun ia menyadari, bantuan drop air dengan mobil tangki hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah.

“Kalaupun kami mengikuti apa yang jadi permintaan masyarakat apakah itu bisa memberikan solusi? Kalaupun kita drop air apakah masalah selesai? Tentu tidak. Pasti akan terjadi kecemburuan sosial dari masyarakat desa lain,” ujarnya dengan nada prihatin.

Ia menjelaskan, jika hanya satu desa yang dibantu drop air, desa-desa lain yang juga mengalami kekeringan akan merasa diabaikan dan menimbulkan kecemburuan sosial baru.

Oleh karena itu, Hendry menegaskan tugasnya sebagai wakil rakyat adalah menyampaikan secara resmi kondisi krisis ini kepada pemerintah eksekutif agar ada penanganan yang sistematis dan menyeluruh.

“Tugas kami sebagai wakil rakyat menyampaikan kepada pemerintah Provinsi Sulut dan pemerintah Kabupaten Minut dan pemerintah Kota Bitung untuk mengadakan air bersih pada masyarakat yang mengalami kekeringan,” sambungnya.

Ia mendesak agar pemerintah harus memasukan anggaran tanggap darurat kekeringan, baik untuk pengadaan air bersih jangka pendek maupun pembangunan infrastruktur air bersih jangka panjang seperti sumur bor dalam, embung, dan jaringan pipanisasi.

“Kita tidak bisa hanya menunggu hujan turun. Pemerintah harus hadir. BPBD, Dinas PUPR, PDAM, DINAS SOSIAL, DINAS KESEHATAN harus bergerak cepat untuk memetakan wilayah mana saja yang paling parah terdampak El Nino ini,” pungkas Hendry.

Hingga berita ini diturunkan, warga di Tatelu dan beberapa desa lainnya di Minut masih berharap bantuan air bersih segera datang sebelum krisis semakin meluas.

Exit mobile version