BITUNG – Digitalisasi pembelajaran di sekolah tidak selalu membutuhkan biaya besar maupun infrastruktur yang serba lengkap. Pemanfaatan perangkat yang sudah tersedia secara optimal justru dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan teknologi.
Hal tersebut disampaikan Novrieta Tampie, Kepala SD GMIM 23 Girian Atas Bitung, yang menjadi salah satu peserta terbaik dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Digitalisasi Pembelajaran Jenjang Sekolah Angkatan IV yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Novrieta menyampaikan gagasan tersebut saat mempresentasikan hasil Bimtek yang diikutinya selama empat hari di Hotel Wyndham Surabaya, dalam Pertemuan Kelompok Kerja Kepala Satuan Pendidikan (K3SP) Sekolah Dasar se-Kota Bitung.
Menurutnya, tantangan utama digitalisasi di sekolah bukan semata-mata keterbatasan fasilitas, tetapi pola pikir dalam melihat dan memanfaatkan aset yang sudah dimiliki sekolah.
“Jangan sampai kepala satuan pendidikan memiliki pola pikir defisit, sehingga orientasinya hanya pada apa yang kurang. Pola pikir seperti ini justru bisa menjadi pemicu sekolah enggan melakukan digitalisasi. Sebaliknya, jika kita menggunakan pola pikir aset, maka apa yang tersedia dapat dimanfaatkan menjadi kekuatan dalam pembelajaran digital,” ujar Novrieta.
Ia menegaskan, digitalisasi pembelajaran tidak harus menunggu seluruh fasilitas tersedia secara lengkap. Sekolah dapat memulainya dari perangkat yang sudah dimiliki, baik oleh sekolah maupun guru.
“Digitalisasi tidak harus menunggu fasilitas lengkap. Mulailah dengan teknologi dan sumber daya yang kita miliki. Setiap sekolah pasti memiliki kekuatan. Kekuatan itu akan berkembang ketika dikenali, dihargai dan dimanfaatkan melalui kolaborasi, baik antar-guru maupun dengan orang tua murid, yayasan dan stakeholder sekolah,” jelasnya.
Novrieta mencontohkan, guru dapat mulai membuat berbagai materi pembelajaran digital seperti video pembelajaran, film pendek maupun gambar alat peraga hanya dengan menggunakan telepon seluler dan laptop.
Selain itu, sejumlah perangkat pendukung yang telah diberikan pemerintah kepada sekolah, seperti papan interaktif digital, hard disk dan LCD, juga dinilai perlu dimanfaatkan secara maksimal.
“Semua fasilitas yang sudah diberikan pemerintah harus dimanfaatkan. Jangan sampai menjadi mubazir. Anak-anak juga perlu mulai diperkenalkan dengan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan era digital saat ini,” pungkasnya. (*)

