KOTAMOBAGU — Suasana haru dan penuh duka menyelimuti Masjid Al-Mustaqim Polres Kotamobagu, Kamis (13/8/2026). Di tengah proses penanganan tragedi maut ajang drag race yang mengguncang Kota Kotamobagu, jajaran kepolisian memilih menguatkan langkah dengan doa.
Dipimpin langsung Kapolres Kotamobagu AKBP Abdul Kholik, S.H., S.I.K., M.A.P, jajaran Pejabat Utama (PJU), para perwira, serta personel Polres Kotamobagu yang beragama Islam mengikuti kegiatan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal).
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan doa bersama dan shalat gaib untuk para korban yang meninggal dunia dalam musibah drag race.
Dalam suasana khusyuk, seluruh personel memanjatkan doa agar para korban yang telah berpulang mendapat ampunan Allah SWT, diterima seluruh amal ibadahnya, serta memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya.
Doa juga secara khusus dipanjatkan bagi para korban yang masih menjalani perawatan medis intensif di sejumlah rumah sakit di Manado.
Keluarga besar Polres Kotamobagu berharap para korban yang masih berjuang mendapatkan kesembuhan dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga.
Kapolres Kotamobagu AKBP Abdul Kholik mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pembinaan keagamaan. Di tengah suasana duka akibat tragedi tersebut, doa bersama menjadi bentuk empati dan kepedulian jajaran kepolisian terhadap para korban serta keluarga yang ditinggalkan.
“Melalui doa bersama ini, kita memohon kepada Allah SWT agar para korban yang telah meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan mereka yang masih menjalani perawatan diberikan kesembuhan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Binrohtal juga tidak hanya dilakukan oleh personel Muslim. Kegiatan serupa dilaksanakan secara serentak di tempat ibadah masing-masing bagi personel yang memeluk agama dan kepercayaan berbeda.
Hal itu menjadi simbol bahwa duka akibat tragedi tersebut dirasakan bersama, tanpa membedakan latar belakang agama maupun keyakinan.
Bagi Polres Kotamobagu, penguatan spiritual dinilai penting di tengah tugas kepolisian yang tidak ringan, khususnya ketika jajaran masih terlibat dalam penanganan dan pengungkapan berbagai fakta di balik tragedi drag race tersebut.
AKBP Abdul Kholik menegaskan bahwa pembinaan rohani dan mental diharapkan menjadi penyeimbang bagi personel dalam menjalankan tugas.
Spiritualitas yang kuat, kata dia, diharapkan mampu membentuk sikap empati, ketenangan, serta kepekaan sosial setiap anggota Polri ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Di tengah situasi seperti ini, kita harus tetap kuat, tetapi juga tidak kehilangan rasa kemanusiaan,” menjadi semangat yang tercermin dalam kegiatan tersebut.
Doa bersama itu pun menjadi pengingat bahwa di balik proses hukum dan penyelidikan atas tragedi drag race, ada keluarga korban yang tengah menghadapi kehilangan dan mereka yang masih menanti kesembuhan orang-orang tercinta.
Polres Kotamobagu memastikan semangat kemanusiaan dan kepedulian tetap menjadi bagian penting dalam setiap langkah jajaran kepolisian menangani musibah tersebut. (***)

