Teror Buaya Belum Berakhir! Dua Nelayan Iyok Bertarung Hidup Mati, Reptil Buas Tewas Dilumpuhkan

BOLTIM – Teror buaya di Desa Iyok, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), kembali nyaris memakan korban.

Belum hilang dari ingatan publik insiden seorang warga yang diserang buaya dan berhasil diselamatkan suaminya beberapa waktu lalu, kini dua nelayan kembali menjadi sasaran serangan reptil predator tersebut.

Peristiwa menegangkan itu terjadi pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 21.30 Wita, saat dua nelayan, Rus dan Isra, tengah memasang sekaligus mengangkat jaring ikan di tepi pantai, tepatnya di sekitar muara sungai Desa Iyok.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua nelayan itu berjalan kaki di perairan dangkal dengan bantuan penerangan senter. Saat sedang mengangkat jaring, mereka dikejutkan dengan kemunculan seekor buaya yang tiba-tiba bergerak cepat dan berusaha menyerang.

Dalam situasi yang sangat berbahaya, keduanya tidak memiliki banyak pilihan. Dengan kondisi air yang dangkal dan ruang gerak terbatas, mereka memilih melawan menggunakan parang dan tombak ikan yang dibawa.

Pertarungan sengit pun tak terhindarkan. Berkat keberanian dan upaya mempertahankan diri, kedua nelayan akhirnya berhasil melumpuhkan buaya tersebut.

Usai memastikan kondisi aman, mereka meminta bantuan warga untuk mengevakuasi buaya ke tepi pantai. Saat diperiksa, buaya itu telah mati akibat luka sabetan parang di bagian leher serta tusukan tombak pada bagian perut.

Warga kemudian menarik bangkai buaya ke daratan dan menguburkannya di sekitar lokasi pantai.

Menerima laporan kejadian tersebut, personel Polsek Nuangan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan tempat kejadian perkara (TKP), memastikan keberadaan buaya, serta mengamankan situasi agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Peristiwa ini kembali mempertegas bahwa Desa Iyok masih berada dalam ancaman serius habitat buaya liar. Berdasarkan catatan, sedikitnya empat kasus penyerangan buaya terhadap warga telah terjadi di desa tersebut, mengakibatkan sejumlah korban mengalami luka-luka hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Kondisi geografis Desa Iyok yang berada tepat di kawasan muara sungai serta mayoritas penduduknya yang berprofesi sebagai nelayan membuat aktivitas masyarakat setiap hari bersinggungan langsung dengan habitat alami buaya.

Warga juga menyebutkan masih banyak buaya liar berukuran besar yang berkeliaran di sekitar muara, sehingga potensi konflik antara manusia dan satwa liar masih sangat tinggi.

Kapolres Bolaang Mongondow Timur, AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, mengimbau seluruh masyarakat, khususnya para nelayan dan warga yang beraktivitas di sekitar muara sungai maupun pesisir Desa Iyok, agar meningkatkan kewaspadaan menyusul kembali terjadinya serangan buaya.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas seorang diri di sekitar muara sungai, terutama pada malam hari atau saat kondisi gelap. Apabila harus melaut atau memasang jaring, lakukan secara berkelompok dan selalu memperhatikan kondisi sekitar,” ujar Kapolres.

Ia juga meminta warga segera melaporkan kepada pemerintah desa, BKSDA, maupun pihak kepolisian apabila melihat keberadaan buaya di sekitar permukiman atau lokasi aktivitas masyarakat.

“Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas. Jangan mencoba mendekati ataupun memancing buaya karena sangat berbahaya. Kami akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan korban,” tegas AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan. (***)

Exit mobile version