BKSDA Sulut Pastikan Kesiapan Kunjungan Menteri di Tangkoko

oleh -522 Dilihat
Jajaran Kementerian Kehutanan dan BKSDA Sulut saat memastikan lokasi kunker Menteri Kehutanan di kawasan hutan tangkoko. (foto istimewa)

BITUNG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung kunjungan kerja Raja Juli Antoni di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, yang merupakan bagian dari kawasan konservasi Tangkoko, Kota Bitung.

Kepala BKSDA Sulawesi Utara, Danny Hendry Pattipeilohy, melalui Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulut, Hendrieks Ansen Rundengan menegaskan bahwa seluruh rangkaian persiapan telah dilaksanakan secara terpadu, mencakup aspek teknis, substansi kegiatan, serta koordinasi lintas sektor dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terkait.

Kunjungan kerja Menteri Kehutanan ini merupakan bagian dari upaya penguatan peran pemerintah dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasis keberlanjutan, sekaligus mendorong optimalisasi fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan secara lestari.

“Seluruh persiapan telah kami lakukan secara komprehensif, termasuk penataan kawasan, pengamanan, serta sinkronisasi dengan berbagai pihak. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk tindak lanjut instruksi pimpinan serta komitmen kami dalam memastikan kunjungan kerja Menteri berjalan efektif dan memberikan penguatan terhadap kebijakan konservasi di daerah,” ujar Rundengan saat dikonfirmasi awak media. Jumat (09/4/2026)

Diketahui, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dijadwalkan mengunjungi kawasan TWA Batuputih pada Jumat, 10 April 2026, pagi hari, bersama rombongan. Dalam kunjungan tersebut, Menteri akan melakukan peninjauan terhadap sebagian fasilitas pengelolaan kawasan serta potensi wisata alam di kawasan Hutan Tangkoko.

Selain itu, agenda kunjungan juga mencakup peninjauan langsung kondisi ekosistem, evaluasi program konservasi yang tengah berjalan, serta dialog dengan pengelola kawasan dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pendekatan kolaboratif dalam pengelolaan konservasi.

Kawasan TWA Batuputih sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan strategis konservasi di Indonesia yang memiliki nilai keanekaragaman hayati tinggi, termasuk habitat satwa endemik seperti tarsius, kuskus, dan burung rangkong.

Lebih lanjut, Rundengan menekankan bahwa kunjungan kerja ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam implementasi kebijakan konservasi yang adaptif dan berkelanjutan.

“Kami berharap kunjungan ini dapat memperkuat arah kebijakan, meningkatkan dukungan program, serta menghadirkan langkah konkret dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan konservasi, khususnya di kawasan Tangkoko,” tambahnya.

Melalui kunjungan ini, pemerintah diharapkan semakin memperkuat komitmen dalam pengelolaan kawasan konservasi yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan, tetapi juga pada pemanfaatan jasa lingkungan secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.