SUARASULUT.COM, Minahasa – Musyawarah Nasional (Munas) II Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Manguni Indonesia (MI) yang digelar di Yama Resort, Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu (22/11/2025), tidak hanya menetapkan kembali Recky Roger Koraag sebagai Ketua Umum, tetapi juga melahirkan figur pemimpin baru di jajaran Dewan Pembina yakni Yandi Oroh, yang dikenal dengan sapaan akrab Yampo.
Usai terpilih sebagai Ketua Dewan Pembina DPP MI, Yampo segera menyampaikan pesan tegas dan bernuansa kultural yang menjadi sorotan utama Munas. Ia menegaskan kembali landasan filosofis organisasi, mendefinisikan Manguni Indonesia sebagai entitas yang lebih besar dari sekadar perkumpulan biasa.
Kepada seluruh jajaran MI, Yampo menyatakan bahwa organisasi ini adalah identitas, kebanggaan dan kekuatan kultural masyarakat adat Minahasa.
Deklarasi ini disambut dengan penegasan komitmen terhadap bangsa dan negara.
“Hari ini kita bukan hanya memilih pemimpin baru, tetapi memperbaharui janji untuk menjaga marwah, martabat dan persaudaraan dalam tubuh MI, serta menjadi benteng dalam menjaga persatuan, kesatuan dan keutuhan NKRI,” kata Yampo.
Pesan ini menempatkan Manguni Indonesia tidak hanya sebagai penjaga nilai-nilai adat, tetapi juga sebagai pilar pertahanan nasional dari tingkat kultural.
Dalam menyikapi periode kepemimpinan baru ini, Yampo secara tajam mengingatkan bahwa kebesaran suatu organisasi tidak hanya bergantung pada sosok ketua yang terpilih, melainkan pada keutuhan kolektif.
“Kebesaran suatu organisasi tidak hanya ditentukan oleh sosok ketuanya, tetapi oleh soliditas seluruh anggotanya,” ujar Yampo, yang kemudian mengajak seluruh perwakilan DPW se-Indonesia untuk menyatukan langkah.
“Saya mengajak kita semua berdiri pada garis yang sama, garis persatuan, garis perjuangan dan garis komitmen untuk masa depan Manguni Indonesia yang lebih kuat,” ujarnya.
Yampo mendesak agar periode 2025–2030 dijadikan sebagai momentum kebangkitan sejati bagi Manguni Indonesia. Ia menekankan perlunya menyingkirkan ego sektoral dan pribadi demi kepentingan yang lebih besar.
“Tidak ada ruang untuk perpecahan, tidak ada tempat bagi kepentingan pribadi. Yang kita bawa adalah kepentingan leluhur, kepentingan budaya dan kepentingan generasi yang akan datang,” tuturnya dengan nada tegas.
Pesan Yampo ditutup dengan menggemakan semangat kawasaran—semangat heroik Minahasa—sebagai energi pendorong kemajuan. “Dengan semangat kawasaran, torang samua boleh maju, torang samua boleh jaga Manguni Indonesia tetap besar,” pungkasnya, menandai dimulainya era baru dengan harapan dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai adat dan persatuan bangsa.(***)





