SUARASULUT.COM, Ratahan – Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) Minahasa Tenggara sukses menggelar acara “Refleksi Santri dan Pentas Seni” yang semarak dan penuh makna pada Jumat, 7 November 2025. Kegiatan ini menjadi momen peringatan ganda, menyatukan semangat Hari Santri dan semangat kepahlawanan menjelang Hari Pahlawan 10 November.
Digagas oleh IPNU dan IPPNU Minahasa Tenggara (Mitra), acara ini mendapat dukungan penuh dari Banom lain, termasuk Fatayat NU, GP Ansor, dan Pergunu Mitra. Balai Pelatihan Desa Ponosakan Belang menjadi saksi khidmatnya refleksi dan meriahnya pentas seni budaya lokal.
Ketua IPPNU Mitra, Alisa Kandou, memandu rangkaian acara, sementara Ketua IPNU Mitra, Sava Bobihu, menyampaikan pengantar maksud kegiatan, menekankan pentingnya peran santri dalam sejarah bangsa.
Puncak acara refleksi diawali dengan doa oleh Ustad Anwar Kapele dan dilanjutkan dengan Tawshiyah Santri yang mendalam oleh Katib PCNU Mitra, Ustad Tayeb Muslim, S.HI. Tausiyah tersebut memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai perjuangan santri yang relevan hingga saat ini.
Kesenian dan Budaya Lokal Jadi Bintang
Kegiatan menjadi semakin berwarna dengan sesi Pentas Kesenian yang bertujuan melestarikan seni religi dan budaya lokal. Berbagai penampilan memukau disajikan, antara lain:
Penuturan Cerita Berbahasa Ponosakan oleh Sekretaris IPNU Mitra, Reyhan Mapille, yang berhasil menghidupkan kembali bahasa lokal dengan cerita yang menarik.
Qasidah Santri dari Majlis binaan Nuraini Daeng, Ketua Bidang Keagamaan IPPNU, menyuguhkan lantunan qasidah yang merdu.
Puisi Perjuangan Rangga Bakari yang dibawakan penuh haru khusus mengangkat perjuangan Kiai dan Santri dalam perang kemerdekaan. Puisi ini secara gamblang menghubungkan Fatwa Resolusi Jihad Rois Akbar NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang menjadi spirit utama dalam pertempuran 10 November 1945.
Alisa Kandou mengatakan, kegiatan ini merupakan refleksi bagi kaum muda NU dan pelajar umumnya di Mitra, untuk mengingat sejarah para pejuang kemerdekaan, dimana Santri, Pelajar, dan anak muda saat itu turut berjuang melawan penjajah.
“Hari Santri 22 Oktober adalah sejarah yg tidak terpisahkan dari Peristiwa 10 November 1945 yang diperingati sebagai hari pahlawan, dan untuk itu kami mengajak kepada seluruh kaum muda, pelajar khususnya untuk terus berperan positif dalam catatan sejarah bangsa, khususnya di minahasa tenggara,” kata Alisa yang didampingi oleh Sava Bobihu.
Soliditas organisasi NU di Minahasa Tenggara tampak jelas dengan kehadiran lengkap para pimpinan Banom. Turut hadir dan memberikan dukungan adalah Ketua Fatayat NU, Wahyuni Bayahi; Satkorcab Banser Ansor, Ridwan Sineke, bersama Pengurus GP Ansor; serta Ketua Pergunu, Subhan Umar. Kehadiran Siswa SMA dan Tokoh Pemuda juga menunjukkan daya tarik acara di kalangan generasi muda.
Acara ditutup dengan kegiatan nonton bareng (Nobar) film inspiratif “Sang Kiai,” meninggalkan kesan mendalam tentang jasa besar ulama dan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.(***)
