BOLTIM — Ruas jalan Provinsi di Desa Lanut, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, yang amblas beberapa bulan lalu, hingga kini belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Pantauan langsung di lokasi, terlihat pekerjaan perbaikan yang sempat dimulai oleh pihak Balai Jalan Provinsi kini terhenti total.
Penyebab utamanya adalah kondisi struktur tanah di sekitar lokasi longsoran yang terus mengalami penurunan, membuat upaya penanganan teknis menjadi semakin kompleks dan berisiko.
Namun di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, semangat gotong royong warga patut diacungi jempol.
Pemerintah Desa Lanut bersama Koperasi Unit Desa (KUD) Nomontang dan masyarakat setempat, bahu membahu membuka akses jalan alternatif demi menjaga kelancaran aktivitas harian warga.
“Jalan alternatif ini dibuka atas instruksi langsung dari Bapak Bupati dan Wakil Bupati Boltim. Dananya bersumber dari KUD Nomontang serta swadaya masyarakat pengguna jalan,” ujar Ketua KUD Nomontang Lanut, Rival Mumek, saat ditemui di lokasi, Jumat (23/5/2025).
Menurut Rival, pembukaan jalan alternatif tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kebutuhan mobilitas warga yang selama ini sangat bergantung pada akses utama tersebut.
“Meski ini bukan jalan permanen, tapi sangat membantu. Kita tidak bisa menunggu terlalu lama, masyarakat butuh jalan untuk aktivitas ekonomi, sekolah, dan kebutuhan mendesak lainnya. Ini bentuk tanggung jawab sosial kami bersama,” tambahnya.
Salah satu warga pengguna jalan, Arfan Mokodompit, mengungkapkan rasa syukurnya atas dibukanya jalur alternatif tersebut.
“Kalau tidak ada jalan ini, kami harus memutar sangat jauh. Sekarang meski jalurnya masih tanah dan agak sempit, tapi setidaknya bisa dilalui motor dan mobil kecil. Terima kasih kepada pemerintah desa, KUD dan warga yang telah bergotong-royong membuat jalan alternatif ini,” ujarnya.
Sementara itu, warga lainnya berharap agar Pemerintah Provinsi Sulut dan Balai Jalan segera menuntaskan perbaikan ruas jalan utama agar masyarakat tidak terlalu lama bergantung pada jalur darurat yang rawan saat hujan. (**)

