Bukan Janji Tapi Aksi, Fahli Samola Turun Tangan Buka Akses Longsor dengan Eksavator Pribadi

oleh -2876 Dilihat
Fahli Samola turun langsung membersihkan akses jalan yang tertutup bebatuan dengan alat berat miliknya.

BOLTIM – Di tengah riuhnya narasi tentang kepemimpinan dan janji-janji perubahan, seorang pemuda asal Bolaang Mongondow Timur (Boltim) justru memilih jalan yang berbeda—bukan banyak bicara, tapi langsung bekerja.

Dialah Fahli Samola, pemuda milenial asal Desa Tobongon, yang dengan cepat turun tangan membantu membuka akses jalan yang tertutup longsor di jalur Lanut, Desa Bai’, dengan menyumbangkan satu unit alat berat (eksavator) miliknya.

Aksi ini dilakukan tanpa seremoni, tanpa spanduk, tanpa panggung kampanye. Murni karena kepedulian.

“Daripada banyak bicara, lebih baik kerja nyata. Apalagi ini jalan umum, kepentingan bersama. Ndak rugi torang bantu pemerintah kalau torang sendiri mampu dan ikhlas,” ujar Fahli, merendah namun penuh makna.

Sebagai pengusaha muda yang besar di lingkungan pertambangan, Fahli sangat paham betapa vitalnya akses jalan bagi kehidupan masyarakat.

Maka saat mendengar jalur utama di Boltim terputus akibat longsor, ia tidak menunggu perintah atau sorotan media. Ia langsung bergerak, mengirim eksavator pribadi ke lokasi bencana.

Langkah ini pun jadi bukti nyata dukungan Fahli terhadap pemerintahan Bupati Oskar Manoppo dan Wabup Argo Sumaiku (Oppo-Argo) yang tengah giat membenahi Boltim.

Menurutnya, kolaborasi antara pemuda, masyarakat, dan pemerintah harus dimulai dari aksi kecil yang berdampak besar—seperti gotong royong saat bencana.

Kini, saat namanya mulai disebut-sebut sebagai calon kuat Ketua DPD KNPI Boltim, masyarakat mulai melihat Fahli bukan hanya sebagai sosok muda dengan visi, tapi juga aksi.

Ia tak banyak janji, tapi bukti. Ia tak hanya berbicara perubahan, tapi menunjukkan bagaimana perubahan bisa dimulai—dari jalanan yang longsor, dari lengan baju yang dilipat, dari satu alat berat yang dikirim dengan hati.

Fahli Samola telah memberi pesan kuat: kepemimpinan sejati tak harus berada di atas podium. Kadang, justru ditemukan di tengah lumpur, saat banyak yang menunggu, dan hanya sedikit yang bergerak. (**)