Kontroversi Kapitalaung Utaurano: Embung Penampung Air di Ambang Alih Fungsi jadi Kolam Renang

oleh -2086 Dilihat
Lokasi Embung di Kampung Utaurano yang bakal dialihfungsikan jadi Kolam Renang

Sangihe, SuaraSulut.com Keputusan Kapitalaung (Kepala Kampung) Utaurano, Herdiyanto Takapulungang, untuk mengalih fungsikan Embung Penampung Air menjadi kolam renang menuai sorotan tajam dari sejumlah petani setempat. Embung yang merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, belum dihibahkan ke Kampung Utaurano.

Menanggapi hal ini, Ketua Kelompok Tani Utaurano, Gitson Puasa, menyatakan kekecewaannya. Ia menilai bahwa langkah tersebut adalah sebuah tindakan yang tidak bijaksana.

“Sangat disayangkan ketika embung yang seharusnya memberikan dampak positif kepada para petani justru akan dijadikan kolam renang,” ungkap Gitson Puasa, Selasa (16/1/2024).

Menurut Puasa, embung tersebut sudah tidak berfungsi sejak tahun 2020, dan seharusnya pemerintah kampung mencari solusi untuk mengaktifkannya.

“Bukan malah dijadikan kolam renang yang tidak memberikan manfaat bagi petani,” tegasnya.

Om Alo Puasa, sapaan akrab Gitson, juga menekankan agar masyarakat tidak menilai Kapitalaung tidak mampu memberdayakan bantuan pemerintah kepada masyarakat kampung, khususnya para petani.

Sementara itu, Kapitalaung Utaurano, ketika dihubungi media, membenarkan rencananya untuk mengalih fungsikan embung tersebut menjadi kolam renang. Namun, ia menegaskan bahwa hal itu bukanlah alih fungsi, melainkan peningkatan fungsi.

“Benar akan dijadikan kolam renang, tetapi itu bukan di alih fungsikan hanya ditingkatkan fungsinya dan terkait hal ini sudah di koordinasikan dengan kepala bidang Pangan Dinas Pertanian Kepulauan Sangihe,” jelasnya.

Dalam tanggapannya, mantan Kepala Dinas Pertanian Kepulauan Sangihe, Godfried Pela, mengungkapkan bahwa data yang dimilikinya menunjukkan bahwa embung tersebut masih menjadi aset Pemkab Sangihe dan belum dihibahkan ke Kampung Utaurano.

Kontroversi ini semakin memanas dengan pertanyaan mengenai dampak nyata yang akan dirasakan oleh masyarakat, terutama para petani, jika embung tersebut benar-benar dijadikan kolam renang. Suara protes dari kalangan petani menjadi sorotan, mempertanyakan prioritas pembangunan yang seharusnya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

(Erick Sahabat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *