Ketua JAM Sulut Hebat: Filosofi ODSK Jadi Dasar Bagi Pemilih Pemula Tentukan Sikap Politik

0

MANADO- Sikap politik setiap orang menjadi hak pribadi digunakan menentukan pilihan saat pesta demokrasi. Demikian ditegaskan Ketua Umum Jaringan Anak Milenial Sulawesi Utara (JAM Sulut) Hebat, Fabianus Josua Liow.

Lanjut Liow, sikap politik bagi para pemilih pemula alangkah baiknya bersandar pada filosofi politik ODSK ‘Kepemimpinan adalah Teladan.

Filosofi politik ODSK itu, paling ideal bagi kaum milenial menjelang pesta Demokrasi Tahun 2023-2024.”Filosofi ini sangat mempengaruhi pemilih pemula dalam menentukan sikap politik,” kata Josua Liow.

Lanjut Josua Liow, partai politik perlu menerapkan filosofi Kepemimpinan adalah Teladan, termasuk lembaga-lembaga pendidikan tinggi, bahkan lembaga penyelenggara PEMILU, diantaranya Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai bahan mengedukasi para pemilih pemula.

“Bahkan hal yang paling penting, dimana sikap berpolitik bersih sehat dan santun dapat menjadi bagian dalam proses politik melalui pendidikan politik yang dimaksud dapat tercapai,” ujar Liow.

Liow juga menyentil keberhasilan Presiden Joko Widodo harus diakui, dimana dia memenangi pertarungan politik dengan berpegang pada filosofi politik ‘Kepemimpinan adalah Teladan’.

Filosofi ini dinilai berhasil menjadi inspirasi rakyat dalam memilih pemimpin dan menjadi dominan serta menang secara ideal.

Mengapa? Karena mayoritas rakyat melihat lembaga politik terkecil harus beres dan benar serta harus jadi panutan dalam masyarakat.

“Ini yang sangat urgen karena pengalaman masa lalu dan realitas politik saat ini tidak bisa dibohongi dan itu mulai dari keluarga dalam lingkungan sosial budaya dan agama,” tandasnya.

Josua Liow juga menjelaskan, hal lain yang tidak kala penting adalah bagaimana pemimpin benar-benar menjadi pelayan masyarakat, bersikap aspiratif dalam mendengarkan tuntutan masyarakat dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Ia beralasan, bilamana pemimpin politik tidak demikian, maka pemimpin tersebut akan melahirkan kemiskinan bagi masyarakat dalam kepemimpinannya.

Fenomena saat ini ada saja, lanjut Liow, tokoh politik mulai memainkan politik tidak santun seperti mau menolong rakyat dengan melanggar aturan, memainkan peran yang tidak seharusnya, karena aji mumpung , manipulatif serta cenderung menghalalkan segala cara.

“Masyarakat seolah-olah mampu dibodohi dan didustai tanpa merasa bersalah, bahkan aparat seolah-olah mudah diatur dan kecenderungan fatal adalah memaksakan kehendak politik dengan melanggar etika politik dan etika hukum yang berlaku dalam masyarakat,” terangnya.

Hal-hal inilah, menurut Liow, yang perlu dicermati oleh lembaga penyelenggara PEMILU, agar para pemilih pemula tidak dipengaruhi budaya politik busuk.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version