BATU DODA

oleh -2753 Dilihat
Oleh: Uswah Qoimah (Mahasiswa Universitas Andalas)

SETIAP daerah di Indonesia memiliki cerita rakyat atau legenda yang fiktif dan nyata pada zaman dahulu. Kisah- kisah ini diturunkan secara lisan dan didasarkan pada peristiwa yang terjadi di masyarakat pada saat itu. Anda mungkin lebih mengenalnya sebagai dongeng, tetapi terlepas dari apakah itu fiksi atau nyata, kisah- kisah legendaris ini juga memiliki pelajaran moral untuk di pelajari, dan terlebih lagi, itu juga dapat digunakan untuk hiburan.
Cerita legenda adalah cerita rakyat kuno yang berhubungan dengan peristiwa sejarah dan menceritakan tentang kehidupan tokoh, peristiwa, peristiwa atau tempat. Legenda adalah cerita prosa populer yang dikatakan benar-benar terjadi secara historis, meskipun sering kali didistorsi dengan cara yang tidak sesuai dengan cerita aslinya.

Kata legenda berasal dari bahasa latin legere. Legenda adalah cerita prosa populer yang diyakini benar-benar terjadi. Legenda adalah bagian dari cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan. Legenda adalah campuran dari fakta sejarah dan mitos. Oleh karena itu, legenda sering dianggap sebagai “cerita” kolektif ( folk tale ) ( Danandjaja, 2002:66). Kamus Besar Pusat Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008:803), legenda adalah tradisi rakyat kuno yang terkait dengan peristiwa sejarah. Dalam Kamus Istilah Sastra (Sudjman, 1986:47), legenda adalah cerita yang diyakini benar-benar terjadi, tetapi kejadiannya terjadi di dunia nyata.

Ciri-ciri legenda mirip dengan mitos, yaitu cerita yang dianggap pernah terjadi tetapi tidak dianggap sakral. Tokoh-tokoh dalam legenda tersebut biasanya adalah manusia, meskipun terkadang memiliki sifat yang luar biasa dan sering dibantu oleh makhluk gaib. Latar cerita di dunia seperti yang diketahui dan waktu kejadiannya belum lama berselang (Danandjaja, 2002:66).

Bentuk cerita legenda adalah cerita lisan atau tidak tertulis, sehingga mengalami distorsi dan seringkali berbeda jauh dengan cerita aslinya. Oleh karena itu, jika ingin menggunakan cerita legenda sebagai bahan, data atau sumber untuk rekonstruksi cerita, maka bagian-bagian cerita legenda harus dibersihkan terlebih dahulu kandungan cerita rakyatnya ( Danandjaja, 2002:66).
Menurut Jan Harold Brunvand terbagi menjadi 3 kelompok cerita legenda sebagai berikut:
1. Cerita legenda keagamaan yang menceritakan tentang tokoh-tokoh agama, tentang hal luar biasa yang terjadi yang diceritakan dalam kitab suci tertentu.
2. Cerita legenda alam gaib menceritakan dunia supranatural yang berkaitan dengan kepercayaan atau pengalaman seseorang tentang dunia gaib
3. Cerita legenda perorangan yang menceritakan tokoh tertentu di suatu daerah, umumnya kisahnya menceritakan keterkaitan dengan tempat tinggal atau asal suatu nama tempat di suatu daerah
Kali ini saya akan menyampaikan mengenai asal usul batu doda, langsung saja kita masuk ke cerita nya.

Konon pernah ada seorang syekh yang menyebarkan agama Islam di daerah Sijunjung. Syekh ini adalah guru dari Syekh Burhanuddin, seorang mubaligh di Ulakan, Pariaman. Setelah lama belajar Islam di Aceh, syekh itu menyebarkan Islam ke daerah Sijunjung, khususnya ke daerah Sikalad. Selain menyebarkan agama Islam, beliau merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pembentukan kampung di daerah Sijunjung.

Selama penyebaran agama Islam, banyak hal aneh terjadi pada syekh. Suatu hari, ketika dia mengunjungi Sikalad untuk menyebarkan Islam, dia hendak melakukan sholat di atas batu besar. Saat dia berjongkok, seekor harimau yang cukup besar muncul di belakang syekh untuk memakannya, tetapi ketika harimau itu hendak menerkam syekh, harimau itu tiba-tiba tidak dapat menangkap syekh untuk disentuh. Sebaliknya, harimau itu menabrak batu yang meninggalkan bekas di batu itu, kecuali bekas dahi dan lutut Syekh juga terbentuk di batu itu.

Setelah selesai shalat, syekh memarahi harimau tersebut dan atas izin Allah SWT, harimau tersebut menjadi manusia dan membantu syekh menyebarkan agama Islam di daerah Sijunjung dan Solok. Dan harimau itu berjanji kepada anak cucunya bahwa dia tidak akan memakan Sijunjung, terutama Sigladi. Orang Sikaladia menyebut batu ini Batu Doda karena batu ini hanya Tadoda atau terhampar atau terhampar di tempat itu. Batunya cukup besar, air mengalir di atasnya, dan ujung batu bisa dijadikan tempat pemujaan. Di tempat ini tidak ada batu lain selain batu Doda ini, dengan kata lain hanya ada satu batu di tempat ini yaitu batu Doda.
Menurut Maryono, dia menerima dan mendengar legenda ini dari ibunya dan dari percakapan (tuturan) masyarakat setempat. Legenda ini sangat terkenal di daerah Sikalad dan tanda keberadaan legenda ini adalah sebuah batu dengan jejak kaki atau jejak cakar harimau.

Tanda-tandanya ada di Sikaladi dan di dekat rumah informan.
Syekh adalah orang yang lebih paham tentang ajaran Islam. Dulu, kebanyakan syekh Minangkabau adalah agen penyebaran Islam. Selain itu, sebagian orang percaya bahwa syekh biasanya memiliki kekuatan magis.

Masyarakat percaya bahwa batu tapak harimau itu keramat. Selain itu, tempat ini digunakan masyarakat untuk melakukan adat pengembaraan mangrove (sumpah adat) yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan warga Surau Simauang (daerah di luar Sikalad yang masih masuk wilayah administrasi Sijunjung). setiap tahun.

Menurut informan, masyarakat setempat mempercayai cerita tersebut dan meyakini bahwa cerita tersebut adalah kebenaran yang terjadi di masyarakat, sehingga saya mengklasifikasikan cerita ini sebagai legenda. Sebagai bukti kebenaran legenda tersebut, para informan menyebutkan bahwa di kawasan Sikalad terdapat sebuah batu bertanda kaki harimau yang setiap tahun dikunjungi oleh warga Sikalad dan luar Sikalad untuk berbagai acara.***