Perbedaan Purifikasi Teologi Islam di Minangkabau dan di Buton

oleh -2774 Dilihat
Penulis: Zulbaidah (Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)

 

INDONESIA adalah penganut agama Islam terbanyak di Dunia, dalam sejarahnya Islam banyak berperan dalam keutuhan dan kesatuan NKRI. Jika dikaji dalam kitab Hadiyat Al-Basir Fi Ma’rifat al-Qadir Sultan Muhammad ‘Aydrus al-Butuni menceritakan tentang Purifikasi Teologi Islam di Kesultanan Buton. Kitab ini banyak membahas tentang peran seorang tokoh Intelektual Nasional di Nusantara. Salah satu diantara tokoh intelektual tersebut adalah Sultan Muhammad ‘Aydrus, seorang pembaharu di Buton.

Beliau banyak menciptakan karya-karya teologis dalam tradisi keislaman di Buton. Pada kitab Hadiyat al-Basir berperan dalam mempurifikasi teologi Islam di Kesultanan Buton, terutama terhadap kepercayaan ‘warisan’ mengenai reinkarnasi roh orang mati. Namun purifikasi ini sangat berbeda dengan dengan Gerakan Paderi di Minangkabau yang terkesan purisan.

Bermacam macam-macam perkembangan Islam yang terjadi di Nusantara, namun rata-rata tujuan mereka sama yaitu mengubah kebiasaan lama yang buruk menjadi kebiasaan baru yang baik dan lurus.

Tidaklah mudah dalam proses mempurifikasi teologi keislaman di Nusantara. Semua mempunyai halangan dan rintangan masing-masing. Seperti Paderi di Minangkabau banyak memicu konflik dan peperangan antara kaum adat dengan kaum ulama (Paderi). Menurut sejarahnya Belanda enggan datang ke Buton karena wilayahnya dikuasai oleh kerajaan yang kuat dan di kelilingi benteng untuk memantau kapal yang sangat luas.

Saking luasnya Benteng Buton, di kemudian hari, dinobatkan sebagai benteng terluas di dunia versi Guinness World Records. Berbeda dengan Minangkabau Belanda bisa mendiami dan tinggal di Minangkabau serta pandai menghasut kaum adat agar kaum adat dengan kaum paderi pecah belah. Maka disitulah terbentuknya kesan purisan di Minangkabau.
Purifikasi Islam di Mianangkabau
Sebelum Islam datang dan berkembang di Minangkabau, Adat banyak dipahami oleh pemahaman animisme dan dinamisme.

Karenanya alam menjadi acuan yang penting dan menyebabkan ketergantungan kepadanya Sehubungan dengan masuknya agama Hindu dan Budha ke Minangkabau, maka adat dan budaya masyarakat bercampur dengan kepercayaan agama tersebut. budaya sesajian ketempat-tempat yang dianggap keramat (sakti) serta pemujaan kepada benda-benda merupakan kultur masyarakat yang meningkat menjadi keyakinan. Hal ini terlihat dalam aplikasinya seperti kepercayaan reinkarnasi, keharusan membakar kemenyansebelum berdo’a untuk memanggil arwah-arwah dan bertapa ke tempat-tempat keramat. ‘Alam takambang manjadi guru’ yang berarti dari alam mereka mengambil pelajaran adalah bentuk cerminan bahwa masyarakat Minangkabau menjadikan alam sebagai acuan.
Setelah Islam datang, Keadaan Minangkabau Pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi dimana Minangkabau di Islamkan oleh para pedagang-pedagang Muslim yang datang dari Malaka menelusuri Sungai Kampar (Mulyana, 1963:261). Disini para pedagang datang sebagai juru dakwah, menyiarkan ajaran agama Allah. Islam membawa pembaharuan kepada adat dan agama. Disini agama islam tidak menghapuskan adat malahan tambah memperkokoh dan menyempurnakan adat itu sendiri.

Maka terciptalah falsafah “adat basandi syarak syarak basandi kitabullah” dimana adat dan agama di gandengkan dan beriringan. Budaya jelek seperti hukum tarekat, perjudian, mabuk-mabukan yang di anut oleh kaum adat tadi sudah mulai di hilangkan dan kepercayaan- kepercayaan tentang animisme dan dinamisme tentang Kepercayaan Reinkarnasi tidak di percaya lagi. Maka terciptalah panji-panji penegak Islam yang kokoh sehingga banyak kita lihat banyaknya ulama-ulama berdarah Minang yang terlahir.

Purifikasi Islam di Buton
Buton termasuk wilayah strategis, yang sering dilalui oleh kapal dagang dari mancanegara. Selain itu, produksi rempah-rempahnya juga meningkat tajam. Walau Buton termasuk kedalam wilayah yang strategis, Belanda enggan datang ke Buton karena wilayahnya dikuasai oleh kerajaan yang kuat dan di kelilingi benteng untuk memantau kapal yang sangat luas. Selain itu adat dan paham mereka sangat kental tentang kepercayaan benda mati dan roh mati yang berinkarnasi.

Bagiamana cara Purifikasi non-Puritan Terhadap Kepercayaan Reinkarnasi di Buton Sebagai sultan, Muhammad ‘Aydrus tentu menyadari bahwa kepercayaan terhadap reinkarnasi dianut oleh sebagian masyarakat Buton. Meskipun ia berhasil menyebarkan teologi Sunni yang dianggap rasional melalui aktivitas edukasi di lingkungan keraton, tetapi tidak semua orang mengikuti aktivitas tersebut.

Barangkali, beberapa golongan tua dan kaum perempuan masih meyakini kepercayaan tersebut karena mereka tidak mendapatkan sentuhan teologi Sunni secara langsung. Ini berbeda dengan golongan muda yang mengikuti pengajaran teologi Sunni. Aktivitas purifikasi Muhammad ‘Aydrus melalui sarana edukasi terlihat tidak puritan. Meskipun ia pernah ke Haramayn, Muhammad ‘Aydrus tidak dipengaruhi oleh gaya puritan dari gerakan Wahhabiyah di Hijaz. Teks Hadiyat al-Baṣīr merupakan salah satu bentuk puriëkasi yang santun. Di dalam teks ini, Muhammad ‘Aydrus penjelaskan tentang keberadaan alam kubur dan pertanyaan dua malaikat. Setelah itu, ia menyebutkan perihal hari kiamat sebagai alam lanjutan yang dilalui manusia.

Teks ini tidak menyebutkan sama sekali kekeliruan dari kepercayaan reinkarnasi. Namun, penjelasan tentang alam kubur dan hari kiamat seakan ingin mengatakan bahwa roh setelah berpisah dari badan, maka tidak akan lahir kembali, baik ke tubuh manusia maupun hewan.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.