KERAJAAN Banjar adalah sebuah kerajaan Islam di Kalimantan Selatan yang diperintah oleh seorang sultan bernama Suriansyah, yang merupakan sultan pertama dari kerajaan Islam tersebut. Sebelum kerajaan Islam Banjar masuk agama Islam, sudah terbentuk sedemikian rupa sehingga muncul komunitas muslim di sekitar kerajaan, dapat diasumsikan sudah ada tradisi tertulis di kalangan masyarakat. Tradisi ini masuk ke dalam kegiatan keagamaan menulis buku.
Kerajaan Muslim Banjar di Kalimantan Selatan menulis dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Berikut adalah penjelasan dari penulisan langsung dan tidak langsung:
Peran kerajaan secara langsung, misalnya Sultan Adam menulis undang-undang, undang-undang tersebut terbagi menjadi dua versi. Yakni Martapura versi 31 dan versi Amuntas yang memuat 38 pasal. Dalam bentuk pemerintahan, permintaan kerajaan kepada al-Banjar untuk menulis kitab Sabil al-muhtadin li at-Taffaquh fi Amr ad-Din. Buku dua jilid berisi pembahasan ibadah, yaitu seperempat (satu rubu) pembahasan masalah fikih Islam.
Salinan tulisan aslinya, masih dalam bentuk manuskrip (dua versi), dapat ditemukan di Pagari, Martapura. Peran tersebut secara tidak langsung berkaitan dengan al-pendidikan – banjari, al-banjari adalah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa dan daya kepala yang sangat kuat, sehingga semua pelajaran mudah diserap.
Al-Banjari menulis sebuah manuskrip yang hingga kini masih terpelihara, yakni di kandangnya di Zuriyat Martapura. Selain itu, al-banjari sendiri yang memprakarsai berdirinya pusat keagamaan di kerajaan Banjari. Makhamah Syari`ah menulis 2 kitab yaitu kitab nikah dan kitab faraid, kitab nikah berisi pertanyaan tentang pernikahan, sedangkan kitab faraid tentang waris dan pembagiannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Negara Islam Banjar memiliki dua peran tersebut.
Di sini Kerajaan Islam Lombok dikenal dengan nama Gumi Selaparang, Lombok adalah Kerajaan Selaparang. Didirikan oleh Prabu Rangkesari pada abad ke-16 Masehi. Sejumlah besar teks ditemukan di Lombok, yang berisi informasi penting tentang berbagai bidang kehidupan, seperti sastra, agama, sejarah, hukum, politik, adat istiadat.
Naskah tersebut merupakan potret peradaban masyarakat Sasaki yang dicapai pada masa Kerajaan Islam Lombok. Perkembangan budaya tulis pada masyarakat Sasaki tidak lepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi. Selain itu, ada juga teks yang dapat dibaca untuk tujuan penyembuhan (sihir simpatik). Misalnya, Kawitan Selandir (lontar) dibacakan kepada anak-anak yang belum bisa berjalan. Indar Jaya (lontar) dibacakan kepada anak-anak yang sulit berbicara.
Bagi Indrabangsawan (Jawi) dan anak-anak dungu lainnya, terkadang hal itu terjadi hanya dalam bentuk kepercayaan sekelompok orang atau komunitas tertentu. Faktor budaya memegang peranan penting dalam banyak karya intelektual muslim di Lombok. Di kalangan masyarakat Sasak, membaca teks lontar sudah menjadi tradisi dan dikenal luas di kalangan masyarakat Sasak. Tradisi masyarakat Sasaki dalam membaca teks lontari disebut pepasan. Naskah dibaca menggunakan petikan (dikembangkan).
Ada enam lagu yang sangat populer di kalangan masyarakat Sasaki yaitu Durma, Sinom, Smarandana, Pangkur, Dangdang (Dangdang Gula) dan Mas Kumambang. Namun, membaca buku Serat Menak (Jawa), Anda juga akan mengenali lagu-lagu seperti Kinanti, Girisa dan Pucung. Begitu pentingnya naskah dalam kehidupan masyarakat Sasak, sehingga tidak mengherankan bila naskah-naskah hampir ditemukan di setiap desa.
Pada umumnya teks-teks yang berkaitan dengan upacara-upacara tersebut adalah teks-teks yang tersebar di masyarakat. Secara umum, banyak manuskrip yang dikembangkan di komunitas Sasaki tidak diketahui oleh penulisnya, karena sebagian besar manuskrip jarang mencantumkan nama penulisnya.***
