MASUKNYA islam ditanah jawa memberikan kontribusi khususnya terhadap perkembangan kesusastraan jawa. Seperti serat mi’raj dari madura yang diadaptasi dari surat al-isra’ (QS. 17:1) yang menggambarkan perjalanan nabi Muhammad SAW ke surga dan neraka yang di iringi oleh malaikat Jibril. Namun dalam serat mi’raj diceritakan nabi Muhammad SAW diiringi oleh malaikat Jibril dan bidadari. Kehadiran bidadari murapakan karakteristik cerita hindu-jawa.
Serat Madurasa mengandung pedoman moral, petunjuk hidup bagi manusia, nasehat bagi individu dalam berhubungan dengan tuhan, serta pergaulan social dan diri pribadi, terutama bagi penghayat Kauruh Hardapusara. Serat tersebut adalah karya R. Sujanareja yang merupakan anggota penghayat Kauruh Hardapusara, sekaligus murid kesayangan ki kusumawicitra. Penghayat Kauruh Hardapusara diprakarsai ki kusumawicitra dari puworejo.
Serat mi’raj merupakan asil transformasi dari motif hindu-jawa yang karena perubahan keyakinan menjadi muslim, maka cerita yang ada dikembangkan Kembali disesuaikan dengan prinsip islam yang berkembang dipesisir jawa. Latar tempat penting ditekankan di sini karna menyangkut geneologi pengetahuan masyarakat lokal. Persamaan maupun perbedaan tersebut bukan factor kebetulan, melainkan ada media yang mempertemukan motif cerita tersebut, yaitu dasar keyakinan atas kisah-kisah dalam agama sebelumnya. Kebiasaan tulis menulis dalam masyarakat Jawa sudah berlangsung sejak lama.
Karya-karya tulis yang bernafaskan ajaran Jawa biasanya disebut Kasusastran Jawa Kasusastran Jawa ini banyak ragamnya, umpamanya dalam bentuk kakawin contohnya Baratayuda, babad contohnya: Babad Demak, serat contohnya: Serat Wirid Hidayat Jati, serta suluk contohnya Suluk Wujil.
Karya-karya ini ditulis dari masa Kerajaan Mataram yang bercorak Hindu-Budha sampai masa Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang bernuansa Islam (Mulder 1985). Serat Wirid Hidayat Jati karya R. Ng. Ranggawarsita III, dianggap sebagai puncak kesusastraan mistik Jawa, selain Serat Centini atau Suluk Tembangraras. Ketiga serat ini merupakan rujukan pokok bagi penghayat Kejawen, mengingat R.Ng. Ranggawarsita III dianggap sebagai pujangga yang mumpuni sekaligus penutup para pujangga (Widyawati 2012). Istilah pujangga penutup adalah berakhirnya pujangga gagrak lawas ‘gaya lama’, yang ditandai wafatnya R.Ng. Ranggawarsita III (Simuh 1988).
Pada perkembangannya, kesusastraan Jawa disesuaikan dan diperkaya dengan unsur-unsur agama Islam, salah satunya contohnya yaitu sastra serat yang sebagian besar kontennya dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Meski demikian, corak atau bentuknya bersifat khas Jawa yaitu dalam bentuk tembang ‘nyayian’ atau jarwa ‘prosa’ yang berisi tentang: jimat, mantram ‘doa’, perlambang, ramalan, tafsir mimpi, suratan nasib dll (Sunyoto 2012). Dari berbagai macam isi yang terkandung di dalam kesusastraan Jawa, disebutkan bahwa hal yang paling menarik dan favorit adalah mengenai tafsir mimpi, ramalan dan suratan takdir, yang sering disebut Primbon (Sururin dkk. 2018).
Masuknya kasusastraan Islam ke Jawa, yang kemudian dikembangkan dalam pusat studi keislaman seperti pesantren, dengan segera mampu mempengaruhi pola pertumbuhan serta perkembangan kepustakaan Jawa. Hal ini juga mampu menumbuhkan karya-karya yang serupa kasusastran-kepustakaan Jawa, yang mana isinya mempertemukan tradisi Jawa dengan unsur ajaran Islam (Simuh 1988).
Pergaulan para intelektual-priyayi Jawa dengan para pendakwah Islam atau Wali Sanga menjadi titik peralihan, perubahan, dan pergantian-keruntuhan sebuah kerajaan yang kemudian menjadi pertanda pergantian tradisi yang disebut peralihan dari tradisi Kabudhan atau yang bercorak Hindu-Budha ke ajaran Kewalen atau yang bercorak Islam (Simuh 2016).
Dapat diketahui bahwa Serat Madurasa ini mempunyai arti penting bagi Penghayat Hardapusara sebagai pedoman untuk ngudi kasampunan ing urip ‘mencari kesempurnaan hidup’. Di samping itu, isi dari Serat Madurasa juga memberikan informasi yang merepresentasikan sejarah dan budaya masyarakat Jawa pada waktu itu.
Teks serat mi’raj yang tergolong dalam teks sastra islam dipengaruhi oleh unsurmitologi yang menjadi karakteristik cerita hindu yang kemudian diasimiliasikan dalam kisah kisah dalam sejarah islam. Transformasi demikian mempresentasikan berjalannya proses berpindahnya keyakinan telah pula mengubah orientasi sastra dalam yang semula hindu jawa ke islam memahami proses tranformasi di bidang sastra khususnya berkaitan dengan proses perubahan agama, yang berimplikasi pada perubahan dan spesifikasi karya sastra.
Berpindahnya keyakinan telah mengubah orientasi sastra yang semula bertemakan hindu jawa hingga bertema ke keislaman.
Teks serat merupakan salah satu contoh teks asal madura yang berbahasa jawa-madura. Untuk itu bagi pembaca perlu mendapat perhatian lebih detail berkaitan dengan Bahasa tersebut sebelum memahami ceritanya.***





