Sejarah Tradisi Balamang Diminangkabau

oleh -1219 Dilihat
Oleh: Muhammad Rizky Budiman. (Mahasiswa sastra Minangkabau universitas Andalas Padang)

INDONESIA kaya akan tradisi, seperti tradisi menyambut datangnya bulan suci ramadhan. salah satunya di daerah Minangkabau setiap bulan masuknya bulan ramadhan melakukan tradisi balamang, sebelum membahas tradisi ini mari kita ketahui sejarah dari tradisi ini.

Balamang mempunyai sejarah tersendiri, pada mulanya malamang bukanlah tradisi diminangkabau.

Menurut cerita kata dasar dari malamang ialah lamang. Tradisi malamang (membuat lamang) merupakan tradisi masyarakat Minangkabau, membuat lamang pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang bulan puasa (Ramadhan), Masyarakat Minangkabau, dikenal kaya dengan khasanah budaya yang ditandai dengan banyaknya tradisi atau kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada banyak jenis tradisi yang ada dalam kehidupan masyarakat Minangkabau seperti tradisi mairiak pada waktu panen padi, bararak pada waktu baralek (pesta pernikahan), balimau, malamang, babako, dan lain-lain.

Berbagai macam tradisi itu pada umumnya perlu dipertanyakan keberadaannya pada masyarakat Minangkabau sekarang.

Pada awal mula tradisi ini berkaitan dengan syekh burhanuddin yang berasal dari pariaman, diceritakan syekh burhanuddin bersilaturahmi ke rumah-rumah penduduk sembari menyiarkan agama islam, syekh burhanuddin ketika menyebarkan agama islam sering disuguhkan dengan makanan, pada zaman itu masyarakat masih sering memakan olahan dari daging tikus dan ular yang di tulis Van Ronkel di dalam artikelnya. Akan tetapi syekh burhanuddin meragukan makanan yang di hidangkan itu halal apa tidak, Meskipun sudah disuguhkan dengan makanan lain tapi ia masih meragukan dengan kehalalan makanan itu, bisa saja makanan tersebut dimasak di tempat bekas memasak daging tikus, daging ular, dan bisa saja daging babi. ia pun menyarankan kepada masyarakat yang dikunjungi untuk mencari bambu, kemudian didalamnya dikasih daun pisang muda dan nasi, tapi nasi tidak tahan lama kemudian nasi tersebut diganti menjadi ketan atau beras pulut, lalu dimasukin ketan dan santan yang sudah di campurin, kemudian di bakar diatas bara api.

Sehingga tradisi balamang terus berkembang hingga ke seluruh daerah di Minangkabau. Orang minangkabau yang terkenal dengan merantau dan bergadang diberbagai daerah di Indonesia ikut membantu menyebar luaskan tradisi ini di Indonesia hingga luar negeri.

Semarak tradisi ini sudah mulai sejak pada zaman dulu (sekitar tahun 1980-an), yang dimana setiap rumah pada waktu-waktu malamang di halaman depan rumah secara bersamaan atau tolong-menolong baik kaum laki-laki dan kaum perempuan saling bahu-membahu membantu.

Terdapat nilai keagamaan yang tergambar dalam pelaksanaan tradisi ini seperti hari-hari besar agama islam yakni maulid nabi, lebaran dan, lain lainnya.

Di Minangkabau lamang sendiri dijadikan sebagai barang atau makanan yang dibawa saat berkunjung atau bersilaturahmi seorang menantu kerumah mertuanya.

Namun demikian lemang juga ditemukan sebagai makanan tradisional di berbagai daerah seperti Riau, Bengkulu, Jambi, Malaysia, Suku Dayak dan berbagai daerah lainnya. Tradisi balamang sebagai kazanah dalam budaya minangkabau yang tetap di lestarikan sampai saat ini.

Terdapat nilai luhur yang dikandung dalam tradisi tersebut. Hal itu yang menjadi pemerintah bersama masyarakat Minangkabau untuk menjaga kelestarian tradisi ini.

Adapun Jenis-Jenis Lamang:

1. Lamang puluik
Adalah lemang yang menjadikan beras puluik sebagai bahan dasar, lamang puluik juga paling banyak yang di produksi di Minangkabau. Proses pembuatannya adalah memasukan beras puluik yang sudah dicampuri dengan santan ke batang bambu, setelah itu beras sapuluik dibawa ketempat api pembakaran, kemudia waktu masaknya sekitar 5 sampai 6 jam. Jangan lupa di santan diberi garam untuk menambah rasa lebih nikmat.

2. Lamang Pisang
Adalah lamang yang dicampuri dengan pisang dan ketan dalam proses pembuatannya. Dan proses pembuatannya tidak jauh berbeda dengan lamang puluik yang membedakannya adalah beras puluik dicampurkan lebih dulu dengan santan sebelum dimasukkan ke dalam bambu.

3. Lamang Kuning
Lamang jenis ini bahan utama nya adalah tepung beras dan kunyit. Cara pembuatannya dengan menggiling beras hingga halus berbentuk tepung, yang kemudian di campur dengan kunyit, lalu dimasak. Rasa dan aroma yang dihasilkan dari lamang ini sangat harum dan enak untuk disantap. Bahan yang digunakan selain beras dan kunyit adalah santan dan garam. Karena terlebih dulu di aduk diluar baru kemudian dimasukan kedalam batang bambu.

4. Lamang Ubi
Ubi kayu adalah bahan dasar dalam pembuatannya. Lamang ini dibuat dengan mencampurkan saka dengan ubi sebelum dimasukkan kedalam batang bambu, dan proses pembuatannya sama seperti yang yang tiga diatas, namun dalam pembuatan lamang ubi ini tidak dibutuhkan santan kelapa berbeda dengan pembuatan dengan jenis lamang lainnya.

Adapun bahan bahan yang diperlukan dalam pembuatannya
a. Talang atau bamboo
sebagai tempat wadah pemasakannya
b. Santan
c. Beras puluik
beras puluik terbagi 2 yaitu beras warna hitam dan beras puluik warna putih.
Namun seiringan dengan perkembangan zaman banyak yang mengabaikan nilai-nilai tradisional masyarkat, dan itu juga ikuut mempengaruhi eksitensi tradisi balamang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, Tradisi balamang saat ini sudah jarang membuat lamang ketika masuknya bulan suci ramadhan. Hal itu tidak luput dari pola pikir masyarakat sekarang yang ingin semuanya serba instan, dilain sisi proses pembuatannya pun memerlukan waktu yang cukup lama.

Fakta bahwa masyarakat mulai melupakan tradsi malamang ini tidak bisa dihindarkan, padahal dalam sebuah tradisi terdapat nilai budaya dan fungsi sosial yang patut dilestarikan dan dipelajari generasi muda sekarang. Jika tidak dilakukan upaya dokumentasi dan pelestarian tradisi ini, sedikit demi sedikit akan tergerus dengan perkembangan zaman.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.