Astaga, Pemerintah Cuci Otak Anak SD Ikut Perang

oleh -107 views

 

SUARASULUT.COM- Pejabat pemerintah Yaman dan aktivis hak asasi manusia setempat menuduh Houthi mencuci otak dan melatih siswa sekolah dasar (SD) untuk berperang.

 

Kritik Pemerintah Yaman muncul ketika video di media sosial menunjukkan murid-murid yang mengenakan pakaian militer dan saling menghasut untuk angkat senjata untuk melawan musuh-musuh Houthi.

 

Dalam satu video, yang direkam di sekolah dasar Sanaa, seorang anak yang berpura-pura menjadi tentara memohon kepada anak lain untuk mengirimnya ke medan perang agar bisa melawan musuh-musuh.

 

“Kita harus berkorban agar generasi masa depan hidup bermartabat dan terhormat,” kata seorang yang berpura-pura menjadi ibu, seperti dikutip dari Arab News, Minggu, 25 April 2021.

 

Sang ibu yang berpura-pura itu kemudian menyuruh anak tersebut untuk bertarung dengan “Rumah Nabi,” sebutan bagi Houthi.

 

Para pejabat Yaman mengatakan video itu menunjukkan skala indoktrinasi Houthi dan eksploitasi anak-anak oleh kelompok itu.

 

Mereka mengatakan video tersebut mendukung tuduhan lama bahwa pemberontak merekrut anak-anak untuk berperang.

 

“Kami mengulangi kecaman kami terhadap militerisasi sekolah dan siswa dan mengeksploitasi fasilitas pendidikan di bawah kendali Houthi dalam perang mereka melawan negara,” kata Menteri Pendidikan Yaman, Tareq Salim Al-Akbari.

 

 

“Mereka telah memasukkan perubahan sektarian dalam kurikulum yang tidak ada hubungannya dengan identitas dan budaya Yaman,” ujarnya.

 

Para pejabat juga mengatakan, Houthi telah menambahkan beberapa bab ke buku-buku pendidikan dasar yang mengagungkan pendiri kelompok itu, Hussein Al-Houthi, dan tokoh-tokoh Syiah.

 

Menteri Pendidikan Yaman juga memperingatkan bahwa Houthi sedang membesarkan generasi ekstremis yang akan menjadi ancaman bagi Yaman dan dunia.

 

“Dampak dari indoktrinasi Houthi terhadap anak-anak sangat berbahaya. Ini memunculkan generasi yang membawa ideologi sektarian, jauh dari identitas Yaman yang cinta damai,” katanya.

 

Kepada kelompok HAM, seorang pengacara bernama Huda Al-Sarari mengatakan bahwa 1.410 anak, berusia antara 10 dan 15 tahun dan direkrut oleh milisi, telah tewas dalam pertempuran pada tahun 2020.

 

Dia menambahkan bahwa Houthi telah menyiapkan 52 poin militer untuk mengindoktrinasi dan melatih anak-anak, dan telah memasukkan lebih dari 40.000 anak ke dalam perang selama tujuh tahun terakhir.(red/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *