SEPUTARSULUTNEWS,BITUNG– Aditya Putra Tjokro, warga Airmadidi Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), masih terisolasi di Cina. Peraih beasiswa Gusdur di Jiangsu Maritime Institute ini, dilarang keluar asrama kampus selama beberapa hari.
Dikatakan Michael, salah satu kerabat Aditya di Minut, pihaknya (keluarga dan kerabat) sangat khawatir dengan keadaan Aditya. Mereka khawatir dengan nasib Aditya di tengah penyebaran virus corona di Cina. Michael mengabarkan, sebelumnya Aditya sempat membeli tiket penerbangan pulang, namun di-cancel oleh pihak maskapai. Padahal, hari ini adalah batas waktu pemulangan WNI dari Cina.
“Kami tidak tau apa alasan cancel-nya. Saat ini, Aditya bersama satu temannya dari Jawa Timur, butuh pertolongan untuk pulang,” beber Michael.
Di sisi lain, Michael berharap, nasib tamatan SMA Unklab ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah. “Terus terang, keluarga sudah tidak tau lagi berbuat apa. Kami juga tidak punya kontak siapa-siapa untuk minta tolong. Kami harap pak Gubernur Sulut berkenan membantu dan memfasilitasi pemulangan,” harapnya.
Sementara itu, ibunda Aditya, Restovella Kere sangat berharap anaknya boleh mendapat bantuan pemulangan dari Pemerintah Provinsi Sulut, karena setahu keluarga, Rabu (5/2/2020), besok adalah batas waktu pemulangan WNI dari China.(angky)
Pena Pers Berbahaya, Wagub Kandouw Apresiasi Media
SUARASULUT.COM,MANADO– Media itu ibarat pisau. Pisau jika salah digunakan berbahaya, tapi kalau dipakai betul pisau sangat di butuhkan memasak, berkebun dan bercocok tanam.
Ini analogi bagi media. Dimana media sering disebut pena, kalau di pakai salah maka motivasinya berbahaya. Pena di pakai secara betul dan tidak salah dalam memberikan informasi, masukan dan dalam memberikan hiburan bagi kita semua dan memang salah satu pilar pembangunan adalah media.
“Harapan kedepan, tahun ini harus lebih hebat dari tahun lalu, tahun depan harus lebih hebat dari tahun ini. Dimana banyak media cetak untung tapi juga banyak tenggelam. diakui media digital perkembangannya luar biasa, sekarang ini diperlukan determenasi dan rasio atau kemampuan untuk menyesuaikan diri dari macam-macam persaingan dan sekarang,” tegas Wakil Gubernur Sulut saat menghadiri hari ulang tahun Tribun Manado.
Lanjut Wagub Kandouw, di era digital ini di satu sisi bagus tapi di sisi lain banyak juga ancamannya, kritik tetap ada di era digital ini, secara kuantitas orang gampang mengakses tetapi bukan secara kualitas yang saya katakan. Secara simpati dan empati kadang-kadang di era digital siapa saja boleh mengirimkan berita.
Tangapan masukan yang kadang punya simpati dan empati. Kelemahan di era digital tidak ada simpati dan empati, ada kritik macam-macam dia tidak tau orangnya di kritik seperti apa, berbicara dan memberitakan macam-macam dia tidak tahu orangnya seperti apa, untuk itu marilah kita di satu sisi manfaatkan teknologi four point zero tapi di sisi lain simpati dan empati sebagai manusia harus kita kedepankan karena itu adalah ciri-ciri manusia yang membedakan kita dengan ciptaan Tuhan yang lain.
“Kalau kita hanya mengandalkan digitalisasi tapi tidak diimbangi dengan simpati dan empati itu akan sia-sia,” pungkas Wakil Gubernur Steven Kandouw.(wal)





