Kader Cerdas Cegah Stunting: Komitmen Dosen POLNUSTAR Membangun Generasi Sehat di Kendahe

Sangihe, SuaraSulut.com Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang tidak hanya mencakup pengajaran dan penelitian, tetapi juga pengabdian yang nyata kepada masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, dosen-dosen dari Politeknik Negeri Nusa Utara kembali menunjukkan komitmen mereka melalui sebuah kegiatan berharga di wilayah kerja Puskesmas Kendahe, tepatnya pada 16 Oktober 2024. Kegiatan ini mengusung tema penting yaitu “Kader Cerdas Cegah Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kendahe,” yang fokus pada peningkatan pengetahuan kader Posyandu terkait pencegahan stunting, sebuah isu kesehatan yang masih menjadi perhatian nasional.

Kegiatan ini diadakan di Sello, Kampung Kendahe 1, dan berlangsung mulai pukul 10.00 WITA hingga 14.00 WITA. Acara tersebut diawali dengan pembukaan resmi yang dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, seperti Pj. Kapitalaung Kampung Kendahe 1, Sofian Pago, serta perwakilan dari Puskesmas Kendahe. Di antara yang hadir, tampak Penanggung Jawab Bidang Gizi, Deisye Akualing, S. ST, serta Penanggung Jawab Bidang Kebidanan, Sherly Doris, Amd. Keb. Mereka mendampingi perwakilan kader dari delapan Posyandu yang tersebar di wilayah tersebut, sebagai peserta utama dalam kegiatan ini.

Komitmen Para Dosen Terhadap Kesehatan Masyarakat

Tim pengabdian yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri dari para dosen Jurusan Kesehatan Program Studi Keperawatan Politeknik Negeri Nusa Utara. Mereka adalah Yenny B. Makahaghi, S. Kep., Ns., M. Kes. sebagai ketua tim, didukung oleh anggota tim Conny J. Surudani, S. Kep., Ns., M. Kes., Nansy D. Pangandaheng, S. Kep., Ns., M. Kes., dan Yesie B. Sawello, S. Kep. Selain itu, tenaga pendukung dari laboratorium kesehatan juga turut berperan aktif dalam kegiatan ini.

Pengabdian ini mengadopsi metode ceramah, diskusi, dan simulasi, yang dirancang untuk memastikan bahwa para kader tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga terlibat secara aktif dalam pemahaman dan implementasi pencegahan stunting. Stunting, atau kondisi kekurangan gizi kronis pada anak yang berakibat pada pertumbuhan yang tidak optimal, adalah tantangan serius di Indonesia. Dengan pelatihan intensif ini, para kader diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mendukung kesehatan ibu dan anak di lingkungan mereka.

Membangun Kesadaran Kolektif untuk Masa Depan Anak Bangsa

Dalam kegiatan ini, para dosen dan tenaga kesehatan tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan di komunitas lokal. Pengajaran yang dilakukan melalui ceramah mengenai stunting bertujuan membuka wawasan kader Posyandu tentang pentingnya pola makan yang seimbang bagi ibu hamil dan balita, serta pentingnya kebersihan lingkungan untuk mencegah penyakit yang bisa memperburuk keadaan gizi anak. Diskusi interaktif memungkinkan kader berbagi pengalaman sehari-hari mereka, menanyakan masalah yang mereka hadapi, dan bersama-sama mencari solusi praktis.

Simulasi yang dilakukan juga menekankan langkah-langkah konkret yang dapat diambil para kader untuk mengidentifikasi gejala awal stunting pada balita, serta upaya pencegahan melalui pemberian makanan tambahan dan edukasi yang tepat kepada ibu-ibu di wilayah mereka.

“Stunting bukan hanya masalah pertumbuhan fisik. Ini adalah masalah masa depan generasi kita. Jika kita bisa mencegahnya sejak dini, kita sedang memastikan bahwa anak-anak kita akan tumbuh sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan,” ujar Yenny B. Makahaghi, S. Kep., Ns., M. Kes., Ketua Tim Pengabdian, dalam sesi penutup.

Kerja Sama untuk Dampak Jangka Panjang

Keberhasilan kegiatan ini juga tidak lepas dari dukungan pemerintah setempat dan Puskesmas Kendahe, yang terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya mengurangi angka stunting di wilayah tersebut. Kehadiran Bapak Sofian Pago, selaku Pj. Kapitalaung Kampung Kendahe 1, dan perwakilan dari Puskesmas menunjukkan dukungan penuh terhadap program ini. Dalam sambutannya, Sofian Pago menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kader Posyandu adalah ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa. Mereka tidak hanya berinteraksi langsung dengan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber informasi dan penggerak perubahan di lingkungan mereka. Program ini sangat penting karena memberi mereka bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menjalankan tugas tersebut dengan lebih baik,” ungkapnya.

Selain itu, tim pengabdian ini juga memberikan materi cetak dan panduan praktik kepada para kader, yang diharapkan dapat menjadi referensi dalam pelaksanaan tugas mereka di Posyandu masing-masing. Keberlanjutan program ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau durasi pelatihan, tetapi dari dampak jangka panjang yang dapat dihasilkan, khususnya dalam penurunan angka stunting di wilayah Kendahe dan sekitarnya.

Menginspirasi Langkah-Langkah Lebih Lanjut

Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mencegah stunting semakin meningkat. Program ini juga menjadi contoh konkret bagaimana dunia pendidikan dapat bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam menangani isu-isu sosial dan kesehatan yang krusial. Peran dosen sebagai agen perubahan, tidak hanya dalam ruang kelas, tetapi juga di tengah masyarakat, benar-benar diwujudkan melalui pengabdian ini.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu yang dimiliki oleh para akademisi dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Dengan kolaborasi lintas sektor dan semangat kepedulian, upaya pencegahan stunting akan semakin kuat, memberi harapan besar bagi tumbuh kembang generasi yang sehat dan berkualitas.

(Erick Sahabat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *