Yaki Terancam Punah, Minsel Perketat Perang Melawan Perburuan Satwa Liar

MINSEL — Di tengah ancaman kepunahan satwa endemik Sulawesi Utara, Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan memilih bergerak cepat memperkuat benteng perlindungan monyet yaki (Macaca nigra) yang kini berada dalam status kritis dunia.

Bupati Minahasa Selatan Franky Donny Wongkar, S.H., menerima audiensi Yayasan Selamatkan Yaki Sulawesi (YSYS) di Kantor Bupati Minsel, Kamis (9/7/2026), untuk memperkuat langkah konservasi sekaligus memastikan keberlanjutan populasi yaki di habitat alaminya.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penguatan kolaborasi antara Pemkab Minsel, YSYS, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam menjaga salah satu satwa paling ikonik Sulawesi Utara.

YSYS yang sejak 2007 bergerak dalam perlindungan yaki memaparkan perkembangan Program Yaki Pride Campaign di Kabupaten Minahasa Selatan. Program ini telah menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar SMA/SMK hingga warga yang berada di sekitar kawasan konservasi Suaka Margasatwa Manembo-Nembo.

Salah satu program unggulan yang telah dilaksanakan adalah Yaki Youth Camp yang melibatkan 48 pelajar SMA/SMK/MA. Para peserta didorong menjadi generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian satwa liar.
Mulai Juli 2026, YSYS juga akan memperluas kampanye konservasi melalui sosialisasi di seluruh SMP, pasar tradisional, pelaksanaan Yaki Exhibition, hingga berbagai kegiatan pelestarian yang dijadwalkan berlangsung sampai November 2026.

Dalam audiensi itu, Pemkab Minsel dan YSYS juga membahas langkah konkret menghadapi ancaman perdagangan serta konsumsi satwa liar, khususnya menjelang momentum Pengucapan Syukur.

Pemerintah daerah menegaskan kembali komitmen melalui implementasi Instruksi Bupati Minahasa Selatan Nomor 65 Tahun 2025 tentang Perlindungan Monyet Yaki (Macaca nigra) dan Satwa Liar Dilindungi Lainnya.

Data penelitian YSYS menunjukkan populasi yaki di kawasan Hutan Lindung Gunung Lolombulan tercatat sebanyak 85 individu yang terbagi dalam delapan kelompok. Populasi tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Amurang Barat, Motoling Timur, Ranoyapo, dan Modoinding.

Selain aspek konservasi, YSYS juga mengangkat nilai budaya lokal melalui tradisi Mawolay dari Desa Poopo yang kini dikembangkan sebagai simbol pelestarian yaki sekaligus identitas budaya masyarakat.
Ketua YSYS yang baru, Dr. Khouni Lomban Rawung, bersama jajaran pengurus memberikan apresiasi atas komitmen Pemkab Minsel yang dinilai menjadi salah satu pemerintah daerah paling aktif mendukung konservasi yaki di Sulawesi Utara.

Sejak 2024, berbagai langkah telah dilakukan Pemkab Minsel, mulai dari Deklarasi “Beking Sulut Bangga”, edukasi di pasar tradisional, pertemuan bersama para camat dan pemangku kepentingan, penerbitan instruksi bupati, hingga program edukasi sekolah yang berhasil melahirkan 50 Duta Yaki sebagai agen pelestarian lingkungan.

Turut hadir dalam audiensi tersebut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Frangky Tangkere, S.P., M.Si., Kepala Satpol PP Rommy Rumagit, S.Sos., Kepala Bagian Sumber Daya Alam Frany Tilaar, S.P., M.Si., serta jajaran YSYS.(***)