Di Hadapan Sidang Raya KGPM, YSK Minta Pengurus Baru Bersinergi Bangun Sulut dan Rawat Toleransi

MANADO– Momen pemilihan pengurus baru Sinode Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) dimanfaatkan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) untuk menyampaikan pesan tegas: gereja harus tetap menjadi perekat persatuan, menjauh dari politik praktis, dan ikut mengawal pembangunan daerah.

Pesan tersebut disampaikan YSK saat menghadiri sekaligus memberikan materi penguatan pada Sidang Raya XXXV KGPM Tahun 2026 di Kiawa Resort, Selasa (30/6/2026).

Di hadapan peserta sidang, YSK menilai proses pergantian kepemimpinan merupakan bagian alami dari dinamika organisasi. Namun menurutnya, tantangan terbesar bukan berhenti pada siapa yang terpilih, melainkan bagaimana kepengurusan baru mampu melahirkan program kerja yang relevan dengan kebutuhan umat dan masyarakat.

Menegaskan, kualitas sebuah organisasi akan ditentukan oleh arah kebijakan yang disusun setelah proses pemilihan selesai. Analogi yang sama, kata YSK, juga berlaku dalam pemerintahan, di mana keberhasilan pemimpin sangat bergantung pada program yang mampu menjawab kebutuhan rakyat.

Karena itu, ia berharap seluruh keputusan strategis yang dihasilkan dalam Sidang Raya selama lima hari dapat berjalan seiring dengan agenda pembangunan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten.

YSK juga memberikan apresiasi kepada kepengurusan Sinode KGPM periode sebelumnya yang dinilai telah membangun kolaborasi positif bersama pemerintah. Menurutnya, kontribusi KGPM tidak hanya terlihat dalam pelayanan gerejawi, tetapi juga dalam mendukung pembangunan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Utara. Ia menegaskan posisi Sulut sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi terbaik di Indonesia harus terus dipertahankan.

Menurut YSK, sebagai kelompok mayoritas, umat memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan menciptakan kehidupan yang harmonis.

Juga mengulas berbagai tantangan global yang kini dihadapi dunia, mulai dari persoalan ekonomi, politik, perubahan iklim, geopolitik hingga kondisi polycrisis yang menuntut seluruh elemen bangsa memperkuat semangat kebangsaan.

Menutup arahannya, YSK menitipkan pesan khusus kepada pengurus Sinode KGPM yang akan terpilih agar tetap menjaga independensi gereja.
“Gereja KGPM tidak boleh ikut politik praktis. Politik praktis bisa merusak semuanya. Yang utama adalah terus melayani umat dan meminta petunjuk Tuhan,” tegasnya.

Sidang Raya XXXV KGPM saat ini masih berlangsung dengan agenda pembahasan tata gereja, penyempurnaan AD/ART, penyusunan program strategis, hingga pemilihan kepengurusan Sinode periode berikutnya.(***)