Juni 6, 2026

Dari Jalan Rusak untuk Budaya: Cara Unik Warga Batuputih Dukung Tradisi Masamper

Grup Masamper

Personil grup masamper Gahagho Selambungang Batuputih saat melakukan pencarian dana melalui perbaikan jalan rusak. (foto istimewa)

BITUNG — Semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya leluhur ditunjukkan warga Kelurahan Batuputih Atas dan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung.

Melalui Grup Masamper Gahagho Selambungang, masyarakat secara mandiri menggelar penggalangan dana untuk mengikuti perlombaan budaya Masamper, salah satu tradisi khas masyarakat Nusa Utara.

Salah satu Koordinator Grup Masamper Gahagho Selambungang, Pithein Pekade, mengatakan seluruh anggota kelompok terlibat secara kolektif dalam berbagai kegiatan pencarian dana guna mendukung keikutsertaan mereka dalam ajang budaya tersebut.

Menariknya, salah satu metode penggalangan dana yang dilakukan adalah memperbaiki ruas jalan penghubung Kelurahan Batuputih Atas dan Batuputih Bawah menuju pusat Kota Bitung yang selama ini mengalami kerusakan.

“Kami melakukan perbaikan jalan yang rusak selain untuk keselamatan pengguna jalan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya penggalangan dana dengan membuka kotak sumbangan bagi masyarakat yang melintas,” ujar Pithein Pekade, yang akrab disapa Pipo, saat ditemui wartawan, Rabu (4/6/2026).

Mantan Ketua RT di Kelurahan Batuputih Bawah itu menjelaskan, langkah tersebut dilakukan karena terbatasnya akses bantuan dari lembaga maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya daerah.

“Kami berharap kegiatan ini dapat mengetuk hati para individu, pemerhati budaya, maupun pelaku seni yang melintas di ruas jalan ini untuk ikut mendukung pelestarian budaya Nusa Utara,” katanya.

Menurut Pipo, keikutsertaan dalam perlombaan Masamper bukan semata-mata untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

“Mengikuti perlombaan ini sangat penting bagi kami. Selain menjaga warisan budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap tradisi Nusa Utara kepada generasi muda,” tambahnya.

Mengenal Masamper
Masamper merupakan seni tradisional masyarakat Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud yang ditampilkan melalui nyanyian kelompok secara berbalas-balasan, dipadukan dengan gerakan tubuh dan langkah yang serempak. Tradisi ini dikenal sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, serta media penyampaian pesan moral, sosial, dan keagamaan.

Sementara itu, nama grup Gahagho Selambungang memiliki makna yang erat kaitannya dengan doa, harapan, dan permohonan kepada Tuhan. Dalam khazanah bahasa dan budaya Sangihe, kata gahagho sering dihubungkan dengan aktivitas berdoa atau memanjatkan permohonan, sehingga nama tersebut mencerminkan harapan dan semangat kebersamaan dalam setiap penampilan mereka.

Di tengah keterbatasan dukungan dan sarana, aksi warga Batuputih ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah atau sponsor, melainkan juga dapat tumbuh dari kepedulian, gotong royong, dan kecintaan masyarakat terhadap identitas budayanya sendiri. (*)