Muda Charaka Muncul dalam Struktur Event Drag Race Maut Kotamobagu, Berstatus Dewan Penasihat

KOTAMOBAGU — Tragedi maut yang terjadi dalam Open Tournament Tidar Drag Race dan Drag Bike Kotamobagu Championship 2026 mulai membuka sejumlah fakta di balik struktur penyelenggaraan event otomotif yang berujung duka.

Di tengah proses penyelidikan aparat penegak hukum atas insiden yang menewaskan delapan orang, muncul informasi mengenai keterlibatan komunitas otomotif Tim Muda Charaka dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, sejumlah nama yang berada dalam struktur kepanitiaan inti kegiatan juga diketahui memiliki keterkaitan dengan komunitas tersebut. Bahkan, terdapat anggota komunitas yang disebut turut berada dalam kepengurusan Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Dalam struktur penyelenggaraan event, Tim Muda Charaka disebut menempati posisi sebagai dewan penasihat.

Keterlibatan tersebut kemudian dikonfirmasi oleh salah satu anggota komunitas Muda Charaka, Fitrah.

“Iya benar pak, dewan penasihat Muda Charaka,” ungkap Fitrah, anggota biasa di wilayah BMR, melalui pesan WhatsApp, Selasa (11/8/2026).

 

Dari Komunitas Otomotif hingga Struktur Event

Keterlibatan komunitas otomotif dalam penyelenggaraan olahraga balap bukan sesuatu yang asing. Komunitas dapat menjadi bagian dari ekosistem otomotif, baik dalam hal dukungan teknis, jejaring peserta, maupun pengembangan olahraga otomotif di daerah.

Namun, posisi Muda Charaka sebagai dewan penasihat dalam event yang kini menjadi sorotan publik tersebut menjadi salah satu fakta yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.

Pasalnya, event yang semula digelar sebagai ajang olahraga sekaligus hiburan masyarakat itu berubah menjadi tragedi setelah kendaraan balap kehilangan kendali dan menghantam area penonton.

Delapan orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden tersebut, sementara sejumlah korban lainnya mengalami luka-luka.

Kini, aparat penegak hukum tidak hanya dituntut mengungkap kronologi kecelakaan, tetapi juga menelusuri seluruh mata rantai penyelenggaraan kegiatan.

Mulai dari siapa yang memiliki kewenangan dalam struktur kepanitiaan, bagaimana standar keselamatan diterapkan, siapa yang bertanggung jawab terhadap lintasan dan area penonton, hingga bagaimana pemeriksaan terhadap kendaraan balap dilakukan.

 

Bukan Berarti Bertanggung Jawab Pidana

Meski nama Tim Muda Charaka muncul dalam struktur event, keberadaan komunitas tersebut sebagai dewan penasihat maupun keterlibatan sejumlah anggotanya dalam kepanitiaan tidak serta-merta membuktikan adanya kesalahan ataupun tanggung jawab pidana atas tragedi tersebut.

Penentuan pihak yang bertanggung jawab tetap menjadi kewenangan aparat penegak hukum berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan serta bukti-bukti yang ditemukan.

Karena itu, setiap nama dan posisi dalam struktur penyelenggaraan perlu dilihat secara objektif, termasuk kewenangan dan tugas masing-masing.

Pemeriksaan juga diperkirakan akan mencakup aspek perizinan, kelayakan lintasan, sistem pengamanan penonton, pembatas antara lintasan dan area publik, prosedur teknis kendaraan, hingga standar keselamatan yang seharusnya diterapkan dalam sebuah event balap.

 

Struktur Kepanitiaan Jadi Kunci Pengungkapan

Munculnya nama Muda Charaka dalam struktur pendukung event menambah daftar fakta yang perlu diperiksa secara menyeluruh.

Publik kini menunggu sejauh mana aparat dapat membedah struktur penyelenggaraan event tersebut dan menemukan titik persoalan yang menyebabkan tragedi terjadi.

Jika ditemukan adanya kelalaian, pelanggaran prosedur, atau kegagalan memenuhi standar keselamatan, maka fakta tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi penegak hukum untuk menentukan pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum.

Sebaliknya, setiap pihak yang disebut dalam struktur kegiatan juga berhak mendapatkan proses pemeriksaan yang objektif dan tidak didahului oleh kesimpulan.

Pada akhirnya, pengungkapan tragedi drag race Kotamobagu bukan sekadar mencari siapa yang berada di balik struktur kepanitiaan.

Lebih jauh, penyelidikan diharapkan mampu menjawab pertanyaan paling penting yang kini berada di benak publik: mengapa sebuah ajang olahraga yang seharusnya menjadi hiburan justru berubah menjadi tragedi yang merenggut delapan nyawa?

Dan yang tak kalah penting, siapa yang memiliki kewenangan serta tanggung jawab pada setiap tahapan penyelenggaraan event tersebut?

(***)

Exit mobile version