Ironi Kampung Wisata Batuputih: Mendunia karena Tangkoko, Terpuruk karena Infrastruktur

BITUNG — Prestasi nasional yang pernah mengangkat nama Kampung Wisata Batuputih kini seolah hanya tinggal kenangan. Kawasan yang pernah menjadi kebanggaan Sulawesi Utara dan dikenal hingga mancanegara itu justru menghadapi persoalan mendasar berupa jalan rusak dan minim penerangan jalan.

Setiap malam, sejumlah ruas jalan di Kelurahan Batuputih Bawah dan Batuputih Atas berubah menjadi kawasan gelap gulita. akses menuju permukiman dan kawasan wisata nyaris tanpa cahaya tanpa ada lampu penerangan jalan yang hanya berharap Lampu private dari masing-masing rumah, namun banyak titik blang tanpa lampu. Kondisi ini menciptakan kesan kumuh dan tidak terawat di salah satu destinasi wisata andalan Kota Bitung.

Ironisnya, pemandangan tersebut tidak hanya disaksikan warga setempat, tetapi juga wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang untuk menikmati pesona Taman Wisata Alam Tangkoko. Alih-alih mendapatkan kesan sebagai kampung wisata berprestasi, pengunjung justru disuguhi jalan gelap dan infrastruktur yang memprihatinkan.

Pada siang hari, persoalan lain terlihat jelas. Sejumlah ruas jalan rusak dan berlubang menghiasi kawasan yang pernah menjadi kebanggaan nasional. Kerusakan infrastruktur itu dinilai bertolak belakang dengan status Batuputih sebagai kampung wisata yang selama ini dijadikan etalase pariwisata Kota Bitung.

“Padahal, Batuputih Bawah pernah mencatat prestasi membanggakan dengan masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dan menjadi satu-satunya wakil Sulawesi Utara yang berhasil menembus daftar tersebut. Kawasan ini juga dikenal luas karena menjadi gerbang menuju Taman Wisata Alam Tangkoko yang mendunia,” ucap salah satu pelaku wisata Kota Bitung, Hendri Jack Palamia.

Tak hanya itu, kata pria yang kerap berwisata hingga ke pelosok Negeri ini menyampaikan, Batuputih Atas dan Batuputih Bawah juga pernah meraih Juara III Kampung Tertib Lalu Lintas Tingkat Nasional yang diselenggarakan Korlantas Polri pada 2022.

“Namun, sederet penghargaan itu kini seakan kontras dengan kondisi lapangan. Prestasi nasional terpampang dalam catatan sejarah, sementara jalan rusak dan kegelapan menjadi pemandangan yang setiap hari dirasakan warga dan wisatawan,” tandasnya saat bersua dengan awak media. Rabu (03/06/2026)

Masyarakat pun mempertanyakan keseriusan perhatian terhadap kawasan yang selama ini menjadi wajah pariwisata Kota Bitung. Sebab, tanpa pembenahan infrastruktur yang memadai, berbagai penghargaan yang pernah diraih dikhawatirkan hanya menjadi simbol, sementara citra kampung wisata terus mengalami kemunduran. (***)

Exit mobile version