Ketua Panitia Kurban Keluarga Rahman Salehe Dipercayakan kepada Warga Non-Muslim, Potret Toleransi yang Menguat di Boltim

oleh -129 Dilihat

BOLTIM — Perayaan Idul Adha di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur tahun ini menghadirkan pesan kuat tentang toleransi dan persaudaraan lintas agama. Keluarga Rahman Salehe kembali menunjukkan bahwa semangat kebersamaan tidak hanya diwujudkan melalui pembagian daging kurban kepada seluruh masyarakat tanpa memandang keyakinan, tetapi juga lewat keputusan yang menyita perhatian banyak pihak.

Dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di kediaman keluarga Rahman Salehe, Desa Bulawan II, Kecamatan Kotabunan, sejak Rabu (27/5/2026), posisi ketua panitia justru dipercayakan kepada seorang warga non-Muslim.

Sosok tersebut adalah Benny Lapod, warga Desa Paret Timur, yang dipercaya memimpin jalannya penyembelihan dan distribusi hewan kurban keluarga Rahman Salehe.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Rahman Salehe menegaskan, penunjukan Benny Lapod merupakan bentuk nyata toleransi antarumat beragama yang selama ini tumbuh dan terpelihara dengan baik di Bolaang Mongondow Timur.

“Di sini ada juga dari kalangan non-Muslim yang tergabung dalam panitia pelaksana,” ujar Rahman Salehe.

Bagi keluarga Rahman, ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan semata, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial dan membangun rasa persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.

Di tengah berbagai isu sensitif terkait perbedaan keyakinan yang kerap muncul di sejumlah daerah, keluarga Rahman Salehe memilih menghadirkan pesan berbeda—bahwa kebersamaan dapat dirawat melalui kepercayaan dan kerja sama.

Benny Lapod sendiri mengaku awalnya tidak menyangka akan diberi amanah memimpin kepanitiaan dalam kegiatan keagamaan umat Muslim tersebut. Namun karena kedekatannya dengan masyarakat sekitar serta kepercayaan yang diberikan, ia menerima tanggung jawab itu dengan terbuka.

“Saya memang kerap bergaul dan berkecimpung dengan masyarakat di sini, dan juga akhirnya ditunjuk oleh Pak Rahman, ya saya setuju,” tutur Benny.

Lebih dari sekadar menjalankan tugas, Benny mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam pelaksanaan kurban bersama keluarga Rahman Salehe. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati dan bergandengan tangan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Saya senang terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini,” ungkapnya.

Ia pun berharap suasana harmonis dan toleransi yang selama ini terjaga di Bolaang Mongondow Timur dapat terus dipertahankan.

Kepercayaan yang diberikan kepada Benny Lapod menjadi pesan kuat bahwa toleransi bukan hanya slogan atau sebatas deklarasi formal, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, penghormatan terhadap perbedaan dapat diwujudkan hingga pada level pengelolaan dan kepemimpinan kegiatan.

Pelaksanaan kurban yang dipimpin oleh ketua panitia non-Muslim ini pun menjadi gambaran bahwa keberagaman adalah kekuatan sosial yang mampu menyatukan masyarakat. Dari Bulawan II, keluarga Rahman Salehe menghadirkan teladan sederhana namun bermakna: bahwa momen keagamaan dapat menjadi jembatan silaturahmi, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan nilai kemanusiaan di atas segala perbedaan. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.