BITUNG – Bentrokan antar warga nyaris terjadi di Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu. Adanya pemblokiran jalan oleh sebagian warga jadi penyebab situasi tersebut.
Insiden ini terjadi Sabtu (25/4/2026) sore. Lokasi kejadian berada di pintu masuk jalan baru yang dibangun PT Meares Soputan Mining/Tambang Tondano Nusajaya (MSM/TTN).
Sebagaimana informasi dirangkum di lokasi kejadian menyebut, situasi itu dipicu oleh pro dan kontra di masyarakat terkait pemblokiran jalan yang dibangun PT MSM/TTN. Sebagian warga Kelurahan Pinasungkulan setuju jalan diblokir, sebagiannya lagi punya pandangan berbeda.
Pemblokiran jalan itu sendiri didasari tuntutan warga perihal sikap perusahaan terhadap mereka. Sebelum jalan baru dibangun, warga menggunakan jalan lama yang berada di tengah kampung sebagai akses utama aktivitas mereka. Jalan itu berstatus jalan nasional karena menghubungkan wilayah Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa Utara.
Belakangan, jalan lama itu sudah dalam kondisi rusak parah akibat aktivitas pertambangan PT MSM/TTN. Alhasil, perusahaan pun membangun jalan baru guna menggantikan ruas jalan tersebut. Nah, dari sinilah polemik di masyarakat mulai mencuat.
“Kami sebenarnya tidak mempermasalahkan pembukaan jalan baru ini. Silahkan saja perusahaan membukanya untuk umum. Tapi sebelum itu dilakukan, perbaiki dulu jalan yang lama supaya bisa digunakan lagi,” ujar Jemmy Mailoor, warga Kelurahan Pinasungkulan yang pro dengan pemblokiran jalan.
Jemmy mengaku punya alasan kuat perihal desakan ke perusahaan untuk memperbaiki jalan lama yang rusak. Ia khawatir jika jalan baru sudah dibuka untuk umum, perusahaan tidak akan lagi memperbaiki kerusakan di jalan yang lama.
“Perusahaan bisa beralasan sudah ada jalan baru jadi jalan lama sudah tidak diperlukan lagi. Nah kalau itu terjadi, kami yang tinggal di dekat jalan lama bisa terisolasi. Padahal di dekat situ masih banyak lahan kami yang belum dibebaskan perusahaan,” tuturnya.
Di sisi lain, warga yang kontra dengan pemblokiran jalan juga punya alasan kuat. Mereka mendukung pembukaan jalan yang baru karena menganggap jalan lama yang sudah tidak layak digunakan lagi.
“Kalau lewat di situ jadi was-was. Takut jalannya ambles dan kita jatuh ke jurang,” ungkap sejumlah warga.
Tak cuma warga Pinasungkulan, penolakan terhadap pemblokiran jalan juga disuarakan oleh warga dari kelurahan lain. Bahkan warga dari Minahasa Utara juga menyatakan keberatan mereka.
“Kami memahami alasan penutupan jalan. Tapi seharusnya teman-teman di Pinasungkulan juga sadar. Jalan baru itu bukan cuma diperuntukan bagi mereka, tapi bagi kami juga warga Minahasa Utara,” ujar Stenly Sigar, warga Desa Pinenek, Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara.
Jalan baru tersebut lanjut dia, dibangun PT MSM/TTN untuk menggantikan jalan lama yang rusak parah. Dan jalan itu jadi akses utama yang menghubungkan wilayah Girian di Bitung dan Likupang di Minahasa Utara.
“Itu kan bagian dari ruas Jalan Raya Girian-Likupang. Jadi yang menggunakan jalan itu bukan cuma orang Pinasungkulan saja, tapi siapa saja masyarakat. Itu fasilitas umum jadi seharusnya tidak boleh ditutup hanya untuk kepentingan sekelompok orang,” tuturnya.
Karena itu, Stenly pun mendesak agar aparat keamanan bersikap tegas. Jika masih ada warga yang memblokir jalan, ia berharap aparat TNI maupun Polri mengambil tindakan yang diperlukan.
Hal senada disampaikan Marky Kaunang, warga Kelurahan Pinokalan, Kecamatan Ranowulu. Marky mengaku aktivitasnya jadi terganggu akibat adanya pemblokiran jalan.
“Saya hampir setiap hari melintas di sini (Pinasungkulan,red) karena ada keperluan di daerah Likupang. Contohnya hari ini, saya dari Likupang akan pulang ke rumah. Dan karena jalan baru masih ditutup, saya harus melawati jalan lama yang rusak parah,” keluhnya.
Tak cuma aparat TNI/Polri, Marky bahkan mendorong agar Pemkot Bitung juga turun tangan. Ia berharap ada tindakan tegas untuk membubarkan aksi pemblokiran jalan, demi kelancaran aktivitas semua masyarakat.
“Takutnya kalau situasi ini dibiarkan bentrokan akan terjadi di masyarakat. Bahkan bukan cuma sesama warga Pinasungkulan, bentrokan bisa melibatkan masyarakat dari kelurahan atau desa lain. Bisa-bisa orang Pinasungkulan akan dimusuhi warga kelurahan lain karena ini kan jalan umum,” tukasnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, bentrokan antar warga di Pinasungkulan bisa dicegah berkat kehadiran aparat TNI dan Polri. Pasalnya sebelum situasi itu berlangsung, petugas dari dua institusi dimaksud sudah berada di lokasi pemblokiran jalan.
“Kami sudah mendapat informasi terlebih dahulu soal potensi konflik, jadi kami sudah stand by di sini. Dan ternyata benar, sehingga tadi kami bisa mencegah terjadi bentrokan,” ucap AKP Novri Sadia selaku Kabag Ops Polres Bitung.(*)





