BITUNG — Tren kunjungan wisata di sejumlah destinasi unggulan Kota Bitung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, kenaikan jumlah wisatawan tersebut belum berbanding lurus dengan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Data yang disampaikan dalam pembahasan bersama Pansus LKPJ 2025 DPRD Kota Bitung mengungkapkan, aktivitas wisata masih didominasi kunjungan domestik, terutama di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Batuangus yang menjadi salah satu destinasi prioritas.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bitung, Pingkan Kapoh, menyebut peningkatan kunjungan memang terjadi, namun dampaknya terhadap PAD masih terbatas. Saat ini, kontribusi sektor pariwisata lebih banyak berasal dari pajak hotel, restoran, dan hiburan.
“Untuk kawasan TWA seperti Batuangus, pendapatannya masih langsung masuk ke Kementerian Kehutanan. Daerah sementara menjajaki skema kerja sama bagi hasil,” ujar Kapoh. Selasa (14/4/2026).
Hal ini menjadi salah satu faktor utama belum optimalnya pemasukan daerah dari sektor destinasi wisata, meski tingkat kunjungan mengalami kenaikan.
Selain itu, sejumlah destinasi wisata lain di Bitung juga belum memberikan kontribusi PAD. Kondisi ini disebabkan oleh status lahan yang masih bersifat privat serta belum tersedianya fasilitas penunjang yang memadai.
Sorotan tajam datang dari anggota DPRD yang menilai peningkatan kunjungan wisata belum diikuti dengan sistem pengelolaan yang mampu menghasilkan pendapatan daerah. Minimnya indikator kinerja juga dinilai menjadi kendala dalam mengukur capaian sektor pariwisata secara objektif.
“Secara faktual, belum terlihat peningkatan signifikan terhadap PAD. Bahkan indikator kinerja pariwisata pun belum jelas,” ujar Ketua Pansus LKPD DPRD, Rafika Papente..
Sejumlah legislator juga mempertanyakan ketersediaan data komprehensif terkait jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, termasuk durasi tinggal (length of stay) di Kota Bitung. Data tersebut dinilai penting untuk merumuskan strategi peningkatan kunjungan sekaligus mendorong pertumbuhan PAD.
Menanggapi hal itu, Kapoh mengakui data terintegrasi terkait kunjungan wisata dan kontribusinya terhadap PAD belum sepenuhnya tersedia. Pihaknya berkomitmen untuk menyusun basis data tersebut sebagai acuan perencanaan ke depan.
Di tengah meningkatnya minat wisatawan, Pemerintah Kota Bitung juga terus mendorong pengembangan destinasi, termasuk di Pulau Lembeh melalui dukungan anggaran dari Kementerian PUPR. Namun, tantangan utama tetap pada bagaimana mengonversi tingginya kunjungan menjadi pemasukan nyata bagi daerah.
Dengan kondisi ini, penguatan tata kelola destinasi, skema bagi hasil, serta penyediaan data yang akurat menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan agar sektor pariwisata tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan PAD. (***)
